Tentu tidak.
Masih ingat tokoh B yang saya paparkan dalam daily life? Saya ingat menceritakan kembali mengenai dia. Pada tulisan mengenai pesta demokrasi, sehari setelah tulisan itu dibuat, dia mengunggah foto ala ala filsuf gitu. Tulisan berisi: "the illeterate of the 21st century will not be those who cannot read and cannot write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn" diucapkan oleh Alvin Tofler. Alvin tofler adalah seorang penulis dengan plot selalu maju bertahun-tahun dari tahun dunianya. Quote tersebut diucapkan mungkin saja diucapkan ketika ada temu pers yang menanyakan "apakah buta huruf di masa depan masih ada?" Hahahahaa, jangan menganggap serius. Itu hanya khayalan saya saja.
Menyambung tulisan unggahan B. Saya menyerngit kecut. Apakah saya masih harus silent war lagi dengan si B? Oooh ini kekanakan sekali. Saya sempat ingat keinginan saya ketika itu: "saya harus memfoto postingannya dan kirim pesan bertanya 'halo B apakah tulisan ini ditujukan ke saya karena muncul dalam 24 jam setelah tulisan saya'". Wait, is it necessary? Is it worth?
The answer is no.
Karena selidik-diselidiki, viewer blog ini sedikit hanya 4-30 saja. Huahahaha. Hm, bukan saya berarti tujuan tulisannya. Kalaupun B membaca dan masih bersikap silent war berarti dia belum mampu menangkap keseluruhan maksud, atau yah mungkin hanya menulis sebagian kecil keburukan. Seperti tidak bisa lupa atau tidak ingin belajar kembali dari masa lalu. Yah, seperti buta huruf diungkapkan oleh Tofler. Sejujurnya, saya mengabaikan unggahan B tersebut ketika itu.
Hari selanjutnya, ada yang perlu saya tanggapi dari pesta demokrasi 411. Seperti biasa, saya telat mengunggah dikarenakan alasan yang tidak jelas. Padahal 90% tulisan tersebut sudah ada sejak tanggal 6, dan dalam kategori A Thousand Question. Baru kemarin saya mengunggah. Dalam waktu 1x24 jam, B pun mengunggah sebuah tempat nyaman dan bertajuk filosofi. B menyatakan bahwa filsafat itu terapi yang melepaskan kungkungan perspsi asumsi yang ga berpendirian di dunia nyata, pembiasaan dengan filsafat itu sulit jika terbiasa dengan menganggap setiap permasalahan rumit apalagi pertanyaan ada untuk memastikan kesesuaian otak sama realitas, filsafat justru akan mengembangkan imajinasi.
Well, saya merasa tulisan itu tertuju buat saya. Thousand question bernuansa bahwa saya merumitkan pandangan saya, seakan akan pertanyaan ditujukan sekadar memastikan kesesuaian pikiran-realitas. Okey sampai kalimat tadi cukup mengkritik saya.
Bagi saya dan Hawking (aela jadi bawa nama orang), traditionally these are questions for philosophy, but philosophy is dead, philosophy has not kept up with modern developments in science. Yep hukum alam dan Ilahiah adalah segalanya dalam pandangan saya. Apakah itu filsafat? Bukan, itu adalah keyakinan. Filsafat bagi saya hanya plentiran plentiran kecil dari pemahaman manusia mengekstrak perjalanan hidup. Tidak holistik. Memahami hukum alam dan petunjuk ilahiah adalah keseimbangan jiwa. Itu lebih holistik. Cara agar memahami hukum alam adalah bergulat di dalam label "ilmu pengetahuan". Petunjuk ilahiah adalah dengan beribadah. Itulah keseimbangan. Semakin seimbang, semakin kokoh pondasi kehidupan.
Keyakinan membuat seseorang bukan lagi mencari akar agar asumsi dapat berdiri mendukung tindakan dan imajinasi, melainkan membuat tindakan dan pola pikir manusia sesuai dan berusaha disesuaikam dengan keyakinan. Mudahnya, keyakinan itu kristal kehidupan. Istilah kristal kehidupan juga saya terima dari B. Thank you, B. Contoh gamblang: "saya meyakini bahwa laki-laki dan wanita itu berbeda dalam hal fisik, kebutuhan, keinginan, dan capaian. Ketika saya melihat bapak saya yang sedang mengalami mid-life crisis membeli beberapa barang yang terbilang tidak murah, saya hanya diam dan tersenyum, karena itulah mid-life crisis pria! Di lain sisi, ibu yang riweuh bersikeras kembali menjahit karena sebentar lagi kelahiran cucu pertama, saya hanya tersenyum dan memberikan beberapa koleksi buku dan benang saya, karena itulah kebutuhan wanita!". Ingin lebih jauh memberi contoh mengenai rape culture tapi akan sulit dan berpotensi salah persepsi jika terlalu majemuk otak yang mencerna.
Filsafat mengembangkan imajinasi? Hohoho, don't flatter your self. Lihat dan baca kumpulan imajinasi saya yang saya saya tuangkan dalam cerita fiksi. Itu bukan filsafat, tetapi keyakinan. Betapa besar keyakinan menghardik tubuh hingga tidak mampu dibendung oleh satu jasad, maka lahirlah duplikat jasad dalam rupa lain. Okey, itu bisa saja dijadikan alasan agar punya anak, tapi saya memilih jalan lebih mudah: tokoh fiksi.
Jadi. Saya berharap bahwa siapapun tidak salah sangka. Dengan ini, Saya menegaskan bahwa saya bukanlah orang yang terbiasa dengan filsafat, tidak ada satupun tulisan disini yang bisa merujuk pada filsafat saya ataupun saya adalah filsuf wannabe. Tidak, ini adalah tulisan mengenai proses kehidupan saya yang saya takuti akan terlupakan jika hanya menyimpan di dalam memori otak saja. Proses kehidupan saya adalah buah keyakinan saya, bukan filosofi kehidupan.
Terimakasih banyak kepada, B. Diujung paragraf saya mulai belajar bahwa anda sebenarnya sedang mengkritik dan menyarankan saya. Bahkan menyemangati saya bertanya! Ckckck Pelintir emosi memang menyusahkan. Hahaha. So sorry

No comments:
Post a Comment