Daily life #6


Pesta Demokrasi


Halo-halo. Selamat siang dan salam bagi semua pembaca. 
Tulisan kali ini saya tuliskan dalam moment 4 November 2016; yaitu: pesta demokrasi penuntutan pelaku penista kitab suci. daaaaaan... saya tumben menulis di hari momennya. karena biasanya baru menulis setelah momen berlalu. 

yeps, anggap saja saya kesurupan begitu juga tulisan ini. Hampir tadi subuh, saya masih menimbang-nimbang harus berdiri dimana di dalam demo penuntutan penista kitab suci (sebenarnya, nama aslinya demo penuntutan Ahok, atau demo penuntutan pelaku penista agama). apakah saya harus berdiri di golongan anti-demo?, atau saya berdiri di golongan demo? Apapun pilihan saya, saya hanya bisa menulis di blog pribadi saja dengan tujuan mengingatkan saya di masa depan bahwa saya memiliki sejarah hidup seperti ini. Toh Saya tidak ikut ke Istiqlal-Istana merdeka-Bareskrim. Sejujurnya, di saat masyarakat muslim dari penjuru nusantara berbondong-bondong ke Istiqlal saat malam hari, saya malah bermain game, membaca komik, dan mengunduh video. Sejujurnya pula, saat masyarakat muslim bersiap unjuk rasa, saya malah menyiapkan sarapan kemudian tertidur. Sejujurnya pula, saat masyarakat muslim memulai unjuk rasa, saya malah sibuk membersihkan kotoran tubuh kakek saya. Sejujurnya pula, saat masyarakat muslim berunjuk rasa, saya malah menonton video kuliah Sean Hartnoll yang saya unduh semalam. Sejujurnya pula, saat masyarakat muslim sholat jum'at, saya malah menikmati kopi merasakan ada guncangan lindu. ah, alam begitu adil dan ikut berseru atas niat baik para muslim menjaga Al-Quran. 

Pertanyaan saya sebelumnya sih selalu berkata begini: "ngapain sih orang-orang beragama demo? kan agama sendiri (maksudnya Islam) menyerukan persatuan dan kedamaian" kemudian rasanya ga adil kalau saya hanya mengajukan satu pertanyaan tersebut. Lantas, saya berlanjut bertanya "bagaimana awal mula demo ini?".

Sumber informasi bertebaran sebenarnya. Hanya saja, saya menaruh sedikit ketertarikan dalam dunia politik. ah kalau berbicara politik itu rasanya di luar jangkauan tangan saya. Pemicu awal demonstrasi 411  adalah pernyataan tokoh masyarakat, gubernur, calon gubernur periode selanjutnya saat kampanye di satu wilayah. Ucapan beliau sederhana; yaitu “Bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan ga bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gapapa. Karena ini kan hak pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu ga usah merasa ga enak. Dalam nuraninya ga bisa pilih Ahok”. Konteksnya, beliau itu sedang mengemis dukungan. Loh wajar dong mengemis dukungan, namanya juga calon pemimpin aparatur masyarakat. 

Ucapan tersebut memicu saraf para umat Islam yang sebelumnya sudah tegang karena bersuara "ga boleh memilih pemimpin kafir". politik oh politik. Bagi orang anti-demo mungkin bilangnya "Salahnya sendiri pakai Ayat kitab suci buat politik". Lah, salah sendiri juga kenapa beliau terpancing ikutan bawa ayat yang bukan kitab sucinya. Orang waras beragama yang punya kitab suci tersebut aja banyak berhati-hati memaknai kitab suci tersebut; beliau yang tidak punya jiwa dengan kitab suci tersebut punya hak apa menistakan dengan berkata dibohongi ayat kitab suci. Itu sebabnya juga, orang waras beragama harus WARAS jika harus memetik ayat kitab suci; memang sampeyan ahli tafsir yang bisa sanggup berbicara di publik dengan kitab suci? 

wow, mulai terlihat deh kecenderungan saya terhadap pihak mana. Saya tidak peduli dengan politik, tapi saya sebagai muslim mengemban kewajiban menjaga kesucian kitab suci saya: Al-Quran. Al-Quran adalah firman Tuhan. Satu-satunya firman Tuhan yang masih MURNI. Tidak berdasarkan pemikiran logika manusia dari zaman-ke-zaman yang berkembang dan saling membatasi. Lagipula, janji Tuhan untuk "Menjaga kesucian Al-Quran" selalu ditepati. Demonstrasi ini adalah medan pemilihan nurani berdiri. Kalau logikamu mencapai skala holistik dari tujuanmu, ini juga medan pemilihan logika berdiri. 

Jadi ingat beberapa tahun lalu, bahwa saya menertawakan orang-orang yang yakin dengan Alien. Lantas, saya ditegur oleh Abraham dengan ungkapan "terus kenapa? Biarkan saja mereka punya keyakinan seperti itu. Mereka itu sama seperti kamu yang yakin dengan Allah, hukum alam, dan entitas kebenaran. Atau sama denganku yang percaya Yahwe, Taurat, dan Ilmu pengetahuan. Atau masyarakat yang yakin bahwa perdamaian adalah harga mati.  Atau para sampah yang yakin uang adalah dewa. Biarkan mereka yakin kalau manusia bumi bukanlah satu-satunya makhluk hidup di semesta. Selagi kita masih merangkak-rangkak meraba kebenaran, janganlah arogan di bidang yang belum kita kuasai sama sekali. Selama masih ranah percaya dan tidak merugikan, jangan membalas di luar batas"

Tidak ada yang salah dengan memiliki keyakinan. Tidak ada. Yang salah justru kalau keyakinan itu merugikan dan di luar batas. Sama halnya dengan tidak ada yang salah dengan kemampuan sulap Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Dia menjadi salah karena menipu, membunuh, dan menduplikasi nomer seri uang Indonesia. Justru kesalahan terbesar adalah para pengikutnya yang turut percaya dengan aksi menipu, membunuh, dan menduplikasi nomer seri uang Indonesia. loh, kan pengikut percaya karena dibodohi Dimas Kanjeng. 
YA ITUUUU! SALAH MEREKA KENAPA OTAKNYA GA DIPAKAI!?!? (duh capslock nyala terus nih). 
Kenapa punya akal tapi ga mau diolah fungsi akalnya buat mencerna fakta, realitas, dan "benang merah"? 
Kenapa punya hati tapi ga mau diolah fungsi perasaannya buat menata ketamakan, keinginan, dan kebutuhan? 
Kenapa punya nurani tapi ga mau bertanya dan berdoa buat perlindungan dari kebodohan? 
Intinya: "Ya salahnya kenapa mau dibodohi" 
kalau mengutip ucapan Pak Dani: "ya kamu harus memilih tujuanmu, sembari bangun pondasi prinsipmu. Gelar jangan dipakai buat jadi arogan, dan membodohi diri sendiri. kalau sudah begitu, kamu ga akan bisa sanggup berkhianat dengan ilmu dan hati nurani" Mungkin dengan kata lain "Udahlah, ga usah jadi munafik.Kalau kamu dibodohi dengan ikut keyakinan dengan sesuatu tetapi landasanmu ga teguh (bahkan untuk meneguhkan hatimu sendiri) Itu artinya, kamu nambahin list orang-orang munafik di zaman ini". 
Kemudian peringatan Tuhan pun jadi benar: "salah satu tanda akhir zaman banyak manusia beragama tidak beragama, banyak manusia tidak beragama justru beragama". Yups, orang munafik berlimpah. 

Balik kembali ke masalah pesta demokrasi 411. Melihat tindakan penistaan kitab suci, wajar kalau masyarakat muslim melakukan unjuk rasa dalam wujud pesta demokrasi 411. Unjuk rasa ada karena mereka memiliki aspirasi yang HARUS tersampaikan. Aspirasi yang keluar adalah menuntut agar tokoh penista kitab suci diproses secara hukum, dan tidak kebal hukum. okey,  disini harus dipisahkan dengan campur tangan politik pilkada. Politik ya Politik, begitu juga Pilkada ya Pilkada. Masalah beliau harus mundur dari kandidat pilkada, seharusnya sih ga sampai sana urusan pesta demokrasi 411 ini. Apalagi kalau ada yang nitip-nitip minta kesejahteraan buruh, kenaikan UMR, penghapusan outsourcing; beuh, cari lapak lain ya. Kalaupun nanti beliau jadi kandidat pilkada, ya balik lagi, pilkada itu pilihan masyarakat. Memilih aparatur masyarakat ya harus menimbang kecocokan, kemampuan, kecakapan, ketrampilan, kepribadian, dan sejarah, tentunya, dari para kandidat dengan wilayah pilkada. 

So, ga ada yang salah dengan pesta demokrasi 411. Justru ini adalah P.E.S.T.A! medan masyarakat menyuarakan aspirasi dengan cara santun dan mengikuti regulasi, begitu pula medan pemerintah mendengarkan aspirasi dengan terbuka. Kemudian muncul lah dialog saling memahami dan mengerti, bertukar sebab-akibat. 

Berjalan mundur pada sosok saya sebelum terbangun di hari ini. Saya masih beranggapan bahwa demo penuntutan penista kitab suci ini melanggar perdamaian. okey, saya membagikan penyebab anggapan saya tersebut: 
pertama, saya merasa Perdamaian dan Persatuan umat lebih penting.
kedua, saya melihat rekaman salah seorang Habib yang mengumumkan akan memberikan 10 Milyar rupiah atas kepala tokoh penista kitab suci. 
ketiga, saya melihat salah satu umpan dari teman SMA yang mendumal mengenai tindakan pelecehan seksual dari para pendemo kepada wanita saat pagi tadi.
keempat, saya melihat mereka membuang-buang waktu dan uang untuk berdemo? meninggalkan kewajiban mereka? menghamburkan uang?
kelima, tindakan FPI (forum pembela Islam) selama saya 25 tahun (minus 3 bulan, karena ada unjuk rasa FPI yang saya baca malah santun, tetapi karena media masa malah mengumbar berita palsu) mengetahui FPI, selalu berujung anarkis (sama seperti demo buruh tiap 1 Mei, tiap ada kenaikan harga, tiap persiapan musim hari raya, tanggal tangguh SPP pendidikan). 

Saya lebih senang mengawali penjelasan bagaimana saya menyelesaikan penyebab anggapan di poin kedua, ketiga, kelima. Berita menyeramkan dan memprovokasi api kecemasan dan ketakutan justru lebih gencar sebelum 4 November 2016. Bukan ingin tutup mata, telinga, rasa, penciuman, dan pengecap (saya masih merasakan bahwa bumbu kacang tadi pagi masih paling enak, dan wangi kotoran kakek dan kucing saya masih begitu saja) atas berita-berita tersebut, tetapi saya pun cukup kenal dengan tokoh-tokoh muslim YANG SESUNGGUHNYA. Saya mohon maaf jika kalimat setelah ini cukup sulit diolah. Beliau-beliau yang mengemban tugas masing-masing, memiliki cara tersendiri dan latar belakang cukup kuat atas tindakan mereka menyelesaikan tugas masing-masing. Sederhana dalam ungkapan primitif adalah "mereka memiliki kepribadian kuat". Kepribadian kuat bukan didapat secara simsalabim, ada perjalanan dan harga perjalanan. Maka, pandangan saya dalam poin ketiga merasa itu adalah fitnah. BISA JADI terjadi, maka biarlah oknum tersebut terlaknat di kemudian hari; saya selalu berdoa kepada para pelaku pelecehan seksual. Selama, saya mengenal pria muslim YANG SESUNGGUHNYA, mereka justru memperlakukan WANITA SECARA HORMAT, karena mereka menghikmahi secara sungguh-sungguh ajaran agama. Tidak hanya memperlakukan wanita secara hormat, beliau-beliau muslim sesungguhnya memperlakukan segala makhluk (dari yang gaib sampai berwujud tanah) dengan sangat hormat. Alasannya, ya karena mereka menghikmahi ajaran agama. Sederhana kan? 

Alasan sederhana pun bisa menjawab kecemasan saya di poin pertama dan keempat. Kalau saja pesta demokrasi 411 ini tetap dalam jalan santun, mengontrol akal sehat, tenang, dan tidak anarki, poin pertama bisa gugur begitu saja. Justru ini jalan perdamaian dan persatuan dengan memohon Peradilan. Seharusnya, tindakan ini juga didukung dengan respon pemerintah yang baik, tidak bertele-tele; demi menghindari pantikan emosi. Wajar dong, rasa lapar, lelah, letih bisa memantik amarah. Terimakasih banyak kepada pihak yang memberikan konsumsi secara gratis. Terimakasih banyak kepada pihak yang memiliki kebesaran hati. Poin keempat? ohooo, inilah manfaat hidup dengan memiliki keyakinan yang tepat (bukan yakin terhadap uang). Uang, kejayaan, posisi bukan sebuah anchor kehidupan, itu semua adalah angin. Ketika dibutuhkan, angin bisa datang. Ketika lapar menyerang di jalan jihad, ada sebungkus nasi dan air. Tanggung jawab terhadap pekerjaan? ada banyak masa yang turun setelah sholat Jum'at; mereka menyelesaikan tanggung jawab mereka dahulu. Yang tidak bisa ikut? mari berdoa kebaikan, perlindungan, kedamaian; kalian berkeyakinan bahwa memiliki Doa kan? 

Tidak ada alasan bagi saya untuk menentang pesta demokrasi 411 ini. Saya menunjukan keberpihakan saya terhadap pesta demokrasi 411. Harus ada penindakan secara hukum bagi pelaku penista kitab suci. Saya berdoa untuk kesucian kitab suci Al-Qur'an. Bismillah Bismillah Bismillah. 

No comments:

Post a Comment