Freedom itu bebas (part 3)

Pada postingan sebelumnya, aku menyatakan rasa bersyukurku atas didikan Ibu yang berasaskan Kebebasan Bertanggungjawab.

Aku pun sebenarnya masih menjalani proses. Hal yang aku takuti dari langkahku setelah ini adalah aku menarik kembali Kebebasanku sendiri.



Menggelikan bukan?
Aku baru saja semenit lalu menggembor-gemborkan bahwa aku telah mencetak diriku sendiri dengan esensi pendidikan Kebebasan Bertanggungjawab. tapi aku tetap manusia yang belum sempurna. 
Bahkan aku seperti akan melangkahkan kaki menuju kondisi dimana Kebebasanku akan diambil.

Yep, Aku cuma perempuan. Dilahirkan dan dibesarkan layaknya seorang perempuan. Ibuku menjagaku dengan cara dan pertimbangan beliau. Bapakku mengekangku, tapi pada akhirnya kalah dengan kuasa Ibuku; karena Ibuku cerdas. Masku menjagaku dengan tindakannya dia; karena dia mengenal aku dan murid sejati dari Ibuku. 
Balik lagi, Aku perempuan. Bahkan mungkin perempuan yang lagi kasmaran. hahahaha. 
Balik lagi, Aku perempuan. Perempuan yang menyadari umurnya mendekati umur Ibunya menikah, dan perempuan yang selalu punya jiwa keibuan.

Yep, benar sekali. Aku sedang merintis diriku untuk bersiap dalam sebuah pernikahan. Smeua hal itu berlangsung menyenangkan semester yang lalu. tetapi menjadi seperti mimpi buruk yang tak pernah berujung semester ini. 

Okey, aku menyayangi calonku. Aku bahkan ga meragukan bahwa tujuan dan pandangan kita itu satu. Prinsip pun terkadang aku menyadari kalau kita sama. Bertauhid kami pun juga sama. Aku dan Calonku memang banyak yang sama diawal dan diakhir. 
Tapi jembatan antara diawal dan diakhir, aku meragukan segala kesamaannya.

Akan tiba saatnya, dimana aku akan pada akhirnya memutuskan hidup tanpa pasangan. 

menakutkan sih. tapi aku lebih baik mati dalam kesendirian dibandingkan harus hidup dalam kemunafikan. Memunafikan diri sendiri itu amat snagat menyakitkan. Calonku pernah menulis begini dalam blognya:
"jika kamu ingin memahami manusia, maka lihatlah tindakannya pada saat dia memiliki kebebasan untuk memilih"
dan tetap aku selalu bersyukur bahwa aku dilahirkan dan dibesarkan dalam kebebasan bertanggungjawab. Aku tidak jarang memposisikan bahwa diriku sedang tidak bebas. satu-satunya keadaan dimana aku tidak bebas adalah saat aku sedang Ujian dan berbicara di depan umum. aku merasa tidak bebas dengan diriku sendiri; padahal itu adalah sisi bertanggung jawab dari kebebasan bertanggungjawab. 

Aku tidak pernah dipaksa untuk menikahi seseorang. Aku tidak pernah dipaksa untuk menganut idealisme sesuatu. Aku tidak pernah dipaksa untuk hidup dengan cara seseorang tokoh. Aku tidak pernah dipaksa untuk mengikuti logika sesepuh. 

damn! I'm free!! 
So, What's the problem?

Please deh, jangan berharap aku akan mudah dijejali sesuatu yang menggelikan bernama "cara". Bercerita banyak hal tentang istri idaman yang ternyata adalah sosok dengan gen darah yang sama dengan pencerita. menggelikan. sumpah itu menggelikan; tinggal menunggu waktu sampai aku berbicara "menikah saja sana sama darahmu sendiri nanti".

Kebanggaan yang kita punya belum tentu adalah sesuatu yang membanggakan di mata orang lain. Makanya, aku jarang bercerita tentang segala pembanggaan mengenai keluargaku; karena aku sering melihat ada ketimpangan pada kebanggaan orang lain mengenai keluarganya dengan sosok di depan mata kita sebagai penglihat objek yang sedang membangga-banggakan. Sempurnakah kamu? Sangat jauh dari kata sempurna dalam mata yang melihat. menggelikan.

Kalian mengerti istilah sangkar emas?
Sangkar tetaplah Sangkar. meskipun itu emas; tetaplah Sangkar. okey, itu selalu jadi dilema kalo kata beberapa pengantin baru. Dan yah, memang... Kakak Kandungku pun juga meminta calon Istrinya untuk keluar dari tempat kerjanya. 
Keluargaku adalah orang-orang luar biasa. Itu perlu dicatat. Masalah Kakak kandungku tersebut, dia memutuskan sesuatu dengan sebuah solusi. Yah, calon istrinya dia training untuk mempunyai skill yang yahud se-yahud dirinya dalam berbisnis. Hanya saja bisnis di rumah. Calon istrinya pun memang menyukai itu. Jasa adventure, berjualan. semuanyaaaaaaaaa sejalan dan seirama dengan passion calon istrinya. 
Coba mengkonvert ke diriku? dengan motto : "kalau dia bisa kenapa kamu enggak?" 
Okey, aku suka dengan motto  itu, tapi ada kunci yang kelupaan : passion. 
Ga ada tuh yang namanya pernyataan positif dari pertanyaan : "kalau passion dia bisa begitu kenapa kamu enggak?"
Hah. jangan bercanda. Hey kaum adam, bagaimana bisa kamu mengontrol ejakulasimu supaya tidak terjadi dalam waktu lama? memang kamu sanggup? 
Aku paham kok mengenai posisi wanita, kemuliaan wanita, dan kewajiban wanita. Aku paham kalau kalian para adam melakukan banyak pembatasan untuk memuliakan wanita. Aku pun juga tahu, aku tidak berkewajiban menafkahi keluarga kecilku. Aku juga sadar, kalau aku punya kewajiban membesarkan, merawat, melindungi, mendidik anak-anakku sampai aku tidak termaterialisasi. 
Apa yang dikhawatirkan kalau begitu?


Sungguh, kalau pun aku terbang. aku tetap akan terbang dengan kebebasanku. membawa segala passionku yang telah aku temukan. Kemudian aku terbang dengan Sayap bernama Passion, dan Bahan bakar bernama kewajiban. Aku akan terbang dengan bebas dalam artian sesungguhnya.


No comments:

Post a Comment