Marched of March (Part 4)

A : "Pernah ga sih kita melakukan kesalahan besar?"
B : "apa apaan lu nanya begituan? kayak lu orang suci aja"
A : "hhahahaha. dari pernyataan lu mping. gue yakin pasti banyak. ckckckck"
B : "iyalah pasti. kayak elu kagak aja lek"
B : "tapi ada loh satu kesalahan dari gue yang gue nyesel"
A : "apaan? lo tau juga kata nyesel. hhaha"
B : "gue pernah pamrih"
A : ......kebingungan........
B : "sama. gue pernah yang namanya memaksakan cewe gue jadi sosok yang gue pengenin"
B : "egois banget yah"
B : "tapi gara-gara itu, gue ga mau lagi lek kayak gitu"


Itu tadi adalah sepenggal percakapan zaman dahulu antara teman mengobrolku di dunia perkuliahan ini. Ga penting siapa subjek tersebut, tetapi bagiku ucapannya penting. karena menyentil banyak kesadaran di bulan Maret 2013 kemarin.

Sama kayak post sebelumnya. Sakit hati itu pasti dialamin sama setiap manusia karena sebuah masalah. masalah ada karena ada perbenturan 2 objek ataupun subjek. Masalah sendiri juga pasti ada karena hidup sendiri pun pasti ada masalah. pertentangan objek batin mungkin. nah apalagi pertentangan 2 atau lebih subjek. 

Aku inget ada sebuah pertanyaan dari seorang teman di kampus ku yang mengajukan pernyataan : "tidak ada masalah tidak ada peradaban" dan yaaaaaa... aku setuju dengannya. aku sebagai penganut pemahaman "imunitas" jelas lah menganut penggenjotan keburukan dengan dosis pas itu baik.hah!? aku bukan hanya penganut kok; tapi juga pelaku sejarah. (halah. opo kui koyo ngono bahasa ku)

menyambung dengan imunitas; kalo misalnya kita ga belajar dari sesuatu yang buruk, kita ga akan tau kalau itu ternyata buruk. emang sih lebih baik dijauhi. tapi bagiku, minimal kita tahu dan merasakan dengan dosis yang pas untuk bisa menilai itu buruk. jangan hanya mengatakan itu buruk tapi dari kata orang tuaku. hah!? okelah terserah. tiap orang beda sih. tapi aku bakalan lebih memilih untuk diam saja saat ada lintasan buruk daripada menjudge itu buruk tanpa tau seburuk apa buruknya itu.

menyerempet dengan percakapan dengan teman ngobrolku. Kedua hal yang diucapkan dia sebenarnya adalah tamparan buat aku. 
Yah jujur aja sih; aku sampai sekarang pun tidak bersikap A karena aku tidak ingin diperlakukan dengan sikap A. (untungnya dalam kasusku tidak : bersikap B karena ingin diperlakukan B). yap. itu pamrih. karena kenyataannya aku tidak benar-benar tahu apa yang benar dan baik untuk lingkunganku; lalu apa hak ku untuk memaksa dunia tidak memperlakukanku seperti yang kuharapkan. toh, dunia masih tetap bekerja sesuai hukum alamnya. 
Untung saja ada wejangan dari Mbahku : 
Kamu, kalau sudah membantu orang; anggap saja kamu habis buang air besar, kamu ga akan mau meminta kembali yang sudah dikeluarin.
lalu wejangan dari Ibu dan Bapak :
Nduk, kalau kamu bersedekah; jangan berfikir sedekah itu karena kepemilikanmu. saat kamu bersedekah, yakinkan diri kamu bahwa itu memang seharusnya dilanjuttangankan dari kamu ke orang lain. biarkan itu menjadi rizki untuk orang tersebut.
yap. dari semuanya mengerucutkan : "yaudah sih. memang harusnya begitu. toh materi dan tenaga itu cuma titipan" tapi ya tetep sih ga akan semudah itu. Apalagi kalau ditambah untuk peran perasaan yang lagi sakit. mmmmm. rumit banget tuh jamin. emang kadang perlu waktu dan latihan sih untuk menjadi seperti itu. Imun lagi deh kata kuncinya. ckckckck.
Eh, aku juga sih sering menjadi objek pada kasus Pamrih. Tapi balik lagi; aku pernah jadi pelaku dan korban untuk kepuluhan kalinya. asalkan tidak menyinggung kalimat sensitif : "aku ga minta hasil, tapi aku mengatur cara" aku rasa aku masih bisa menanggapinya secara kepala dingin. bisa menimbang-nimbang banyak hal. toh kita sendiri tidak sepenuhnya benar di dunia ini. cuma Tuhan, Nabi dan orang terpilih tuhan yang tahu yang secara hakiki itu benar. Let's grow up guys! semesta ini luas banget looooh.

Menjadi prototypenya orang. ini adalah hal keterlaluan yang pernah aku alami sebagai korban. menyiksa. dan aku tidak menyukainya. dan gawatnya aku merasa sedang diperlakukan seperti itu. 
Apa masalahnya dengan aku berpakaian kaos, celana jins, kerudung sederhana?
Apa masalahnya dengan aku yang tidak bisa memasak?
Apa masalahnya dengan aku yang tidak bercita-cita jadi Ibu rumah tangga?
Apa masalahnya dengan aku berpola pikir liberalis?
Apa masalahnya dengan aku yang menjadi calon ibu dengan caraku sendiri?
Apa masalahnya dengan aku berkegiatan di luar sangkar emas?
Apa masalahnya dengan aku dan kegiatan yang aku imani dengan perjalanan panjang?
damn. 
bastard.
Aku sebal dan sedih kalau membayangkan aku akan menjadi sebuah prototype sesuatu dan aku sedang berjalan ke arah sana. Kenapa aku harus wanita sih? dan ini menyebalkan banget saat aku kembali merutuk keberadaan bahwa aku diperlakukan seperti itu karena aku wanita. sesuatu yang harusnya aku syukuri karena itu nikmat. tapi jadi aku rutuki gara-gara hal seperti itu. Itu penyalahan. dari sisi apapun menuju node itu pun salah. terlihat dari keluarannya kan?
Bahkan Ibuku pun tidak pernah berlaku sejahat itu untuk menjadikan aku sebagai prototype. Bahkan jadi prototype dirinya pun tidak. ergh. rasanya tuuuuuh. ergh banget. sebeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeel. 
muak. 
Muak saat kamu harus tersenyum manis di dalam balutan pakaian yang membuat kamu tidak nyaman. karena hanya menghargai pemberiannya; dan mengharapkan senyuman; yang ternyata pikirannya menuju maintype-nya.
Muak saat kamu harus mendengarkan sebuah untaian kisah suci yang sepenggal dan dapat kamu temui dalam salah satu buku yang sudah kamu baca; dengan struktur, frase, dan kata yang sama. terucap dan diucapkan berkali-kali hingga kau akan hapal kata yang keluar setelahnya.
Muak saat kamu harus mendengar cerita keberhasilan para-para maintype. hah? untuk apa sih cerita mereka? apa dengan mengikuti jejak yang sama seperti mereka akan ada jaminan dapat keberhasilan mereka juga?
Muak. amat sangat muak disaat melihat ketidakorisinalitasan di depan mata dan akan menjadi sesuatu yang tidak orisinal pula nantinya. muak.
damn.
damn.
damn.
 Saat aku jadi pelaku untuk tipikal kejahatan ini, dalam ingatanku aku pernah melakukannya 3 kali.2 kali dalam urusan organisasi. dan 1 kali aku ucapkan secara tidak sengaja melalui kalimat : "yaudah mendingan kamu yang berubah supaya bisa nerima aku"
Miris banget. rasanya penyesalan yang gila-gilaan sampai detik ini. 
gila yah! hidup aku kayaknya digandrungi tekanan mulu yah. tekanan prototype-to-be dan tekananan rasa-bersalah-menjadi-pelaku-to-be
dan obatku?
hanya sebuah ilham sedetik sebelum mataku terpejam : 
"naikkan semua hal yang tidak mampu aku tanggung kepada yang Maha Kuasa"
ucapan yang sama di saat aku ga mampu menahan diri dengan rasa dendam. dan itu obat paling mujarab jika benar-benar meresapinya.

No comments:

Post a Comment