Manusia selalu merasa dirinya lah yang paling merasakan sakit dan paling sial di dunia ini ketika dia sedang ditimpakan sedikit kejadian luar biasa
Kalimat diatas saya dapatkan pertama kalinya dari Ibuku tersayang di saat masa pergejolakan masa remaja. Masa-masa dimana saya amat sangat membenci dengan kehidupan (dan sekarang adalah masa dimana saya dapat tersenyum manis untuk mengenangnya). Terlalu banyak kejadian yang terjadi pada masa pergejolakan tersebut; memulai dari masalah cinta, persahabatan, pengakuan, pengkhianatan, kehilangan, sakit fisik, dan awal perkembangan insting.
Tapi pada masa itu, saya hanya seorang gadis remaja ababil. gadis remaja yang terbentuk dengan meniru sosok super-person; dan berteman dengan orang yang sejenis, dan bermusuhan dengan manusia yang bertentangan. sebuah dinamika biasa yang tidak sehat. Saya bukanlah remaja yang cepat menjadi bijaksana dalam menanggapi banyak kejadian luar biasa. Petuah semacam itu hanya seakaan sebuah omongan di kulit bibir saja.
Sampai umur saya tidak lagi dianggap sebuah fase remaja, saya mengalami sebuah kemunduran yang benar-benar menjadi sebuah palung dalam hidup. Obsesi, Ketidakcakapan, Pandangan negatif, apatis, Sakit mental, kehilangan mendalam, Pengkhianatan, dan Kebodohan merupakan kombinasi cantik untuk melahirkan sebuah rasa Frustasi, Dendam, dan Hina dalam kehidupan sendiri.
Bagaimana bisa seorang manusia merasa jijik terhadap diri sendiri? merasa hina dengan diri sendiri? dan memaki-maki dengan umpatan tidak layak kepada dirinya sendiri? tetapi saya pernah menjadinya; jadi saya bisa mengerti jawaban dari "bagaimana" tersebut. Dan itu adalah sebuah emosi negatif yang mempunya energi skala nasional dan abstrak; sehingga tidak dapat diluruskan dan diklasifikasikan dalam sebuah deskripsi kata-kata.
Dalam melawan fase tersebut, awalnya saya benar-benar berjuang sendiri untuk menghadapinya. Tidak pernah sekalipun saya mengatakan secuil kalimat yang mengarah pada masalah-masalah pada zaman tersebut. Ya, Saya berkelana kesana kemari dengan mengandalkan sebuah energi keberuntungan dari penyelesaian (dan juga pelarian menyenangkan) secara humanis, teoritik, teologi, sekular, fisika, animisme, dinamisme. Dari sanalah, mulai banyak hubungan terjalin. dari berbagai lini kehidupan dan lingkungan tentunya. mulai banyak pecahan yang di dapat; tetapi kebingungan tetap ada. Ya jelaslah, ada banyak film di database hardisk anda, tetapi anda bingung akan menonton apa karena kesemuanya sudah pernah anda tonton dan sangat familiar; hanya ada pilihan untuk membuangnya atau tetap menontonnya satu-persatu.
Sampai di akhir masa tersebut mulai lah Saya bisa mendalami kalimat Ibu saya. Di puncak dari semua perasaan Frustasi, Dendam, dan Hina, ada mulai sebuah cahaya bantuan dari banyak sisi. Segala bantuan tersebut dimulai sejak saya memahami ucapan Ibu, Rasa frustasilah yang kemudian ternetralkan (tetapi tidak beralih menjadi sebuah perasaan optimistik; yang sampai saat ini saya pun masih takut untuk optimis dengan harapan saya), disusul hilangnya rasa Hina dan sendiri terhadap diri sendiri atas bantuan dan peran keluarga (meskipun rasa sendiri itu terkadang penyakit kumatan).
Hal yang paling sulit untuk dihilangkan adalah rasa Dendam. Ya, Saya sudah merasakan jenis perasaan bernama Dendam. dengan satu orang. dan hanya akan saya sisakan kepada satu orang. Saya rela untuk menghabiskan sisa kehidupan di dalam neraka dimanapun hanya untuk melihat manusia yang saya Dendami tersebut jatuh ke neraka terburuk atau terpuruk dengan segala kejatuhan dirinya di depan mata saya. Tidak akan pernah ada rasa maaf dan ampun untuk manusia tersebut. Saya akan membutuhkan kedendaman saya diujung hidup saya, dan kini, saya telah menitipkan rasa tersebut kepada Maha Gaib, Sang Pencipta.
dik, maafkanlah orang yang meminta maaf. setidaknya hanya dalam ucapan; masalah hati, itu tergantung waktu. Jika tidak mampu, coba serahkan kepada Yang lebih berkehendak dengan raga dan jiwa kamu. Jangan membuat hijab untuk kamu berkembang
Berdasarkan ucapan Pa Dhany (Sang Ayah rohani); saya mulai mendalami ucapan itu. Kemudian, diantara puncak kedengkian atas dendam, saya mencoba untuk menitipkan perasaan itu. Keadilan pasti ada; Keadilan itu milik saya juga, tapi Keadilan dan Kebenaran hanya Pencipta yang tahu; saya sedang menitipkan Keadilan kepadaNYA.
Hayooo, jujur siapa yang merasa dirinya paling merasa sakit, berkorban, dan tersiksa dalam sebuah hubungan (hubungan dalam jangkau luas lhooo)? biasanya orang-orang yang merasa dirinya paling berjuang dalam sebuah hubungan; kemudian mempunyai ego sebuah otoritas dalam hubunngan tersebut; saat tidak sesuai dengan dirinya, BLAAAAAR! terlahirlah perasaan sakit, tersiksa, dan lelah berkorban.
oh yaaaa. saya sotoy.... tapi saya mengamati, dan merasakan gitu juga kok. hhahaha.
tapi coba deh; apa pentingnya perasaan kayak begitu?
apa pentingnya perasaan seperti itu untuk dirasakan? lha emang terjadi begitu aja kok.
okey, terjadi begitu saja; tapi apakah itu menyelesaikan masalah? setidaknya yang disebrang tahu.
oh gitu. yang penting di sebrang tahu kalau kita sakit hati, kita tersiksa, dan kita lelah yah? apakah itu menyelesaikan masalah? apakah bukannya malah menularkan rasa yang sama yah? apakah akan terselesaikan masalahnya dengan begitu? Bagaimana kalau ternyata pihak sebrang juga punya ego seperti itu?
Nah loooo... pilihannya hanya yang mana ego terbesar dan terakhir adalah sebuah kekacauan hubungan; satu-satunya efek jangka panjang hanya sebuah pendewasaan dan pendewasaan (tanpa masalah ini pun pasti akan tetap ada pendewasaan kok)
Tetapi jika saya memakai kalimat dari Ibu; yang saya dapat berupa cercaan dan tampilan dari luar bahwa saya tersalah dan bersalah. Seperti itu kah? Ya, Saya seperti itu.
Ini bukan untuk pertama kalinya Aku tidak diharapkan dan terus dipersalahkan. Lebih baik seperti ini, karena Aku selalu bersiap dengan kemungkinan terburuk, dan aku menghindari keburukan jangka panjang.
Itu tadi sebuah ucapan yang pernah saya lontarkan kepada seseorang yang teramat sangat penting dalam hidup saya dengan kondisi yang sama persis dengan deskripsi hasil ucapan Ibu. Kalau saja aku pun bersikap sebagai pihak yang "ter"sakit-i, "ter"lelah-kan, "ter"siksa; apakah hubungan yang aku dan pihak lain jalin akan membaik secepat yang sekarang kami dapatkan?
Sungguhlah, dalam hubungan itu ego selalu menutupi segalanya. Lantas bagaimana jika ada masalah? mari berbalik dan pikirkan apakah niat awal dalam jalinan hubungan? Saya dalam posisi dimanapun lebih memilih untuk hubungan jangka panjang ketimbang harus sebuah nama baik khalayak umum. Ya tetap, saya punya ego. dan saya akan tenggelam dengan sebuah rasa pemberontakan, yang nantinya bisa mendapat rasa menjadi orang terkhianati.
Dan ini bukan untuk pertama kalinya Aku merasa dikhianati baik secara dunia nyata ataupun dunia lain. Aku berkembang dengan keimunan mengenai perasaan menyiksa diri sendiri
Terimakasih untuk siapapun yang telah beriak, bergelombang, pasang-surut, menemani hidupku. memberikan kebahagiaan, sakit, dan Kesedihan. semua hal tersebut telah memberikan pengalaman pendewasaan.
Ibu, Bapak, Mas Gun, Pa Dhany, Alice, Ran, Tooru, Grith, Arman, Asad, Pramita's, Krida's, Satubers, nukers, dan semuanya. Special for YOU, The Grace Lord.


No comments:
Post a Comment