"dulu aku juga suka menempel sesuatu di dinding. isinya yah nyaris sama gitu sama tulisan-tulisan kamu"
Kemarin tuh aku mengunjungi kamar kos seorang teman main renangku. namanya Fadhila. Pas masuk; kamarnya gilaaaaa....... lovely bangeeet. ga maslaah dan ga mementingkan ada berapa banyak benda yang bertebaran di kamar itu. Mungkin semalam dia habis belajar karena minggu ini adalah UTS, atau mungkin dia sedang sibuk mengurus kesekertariatan Organisasi MAPALA kami. Apapun makna barang bertebaran saat itu, sebenarnya cuman mencerminkan kesibukan doi aja.
Nah, hal yang ngebuat aku sukaaaaaaaaaaaaaa banget sama kamar doi itu, soalnya kamarnya itu penuh dengan sesuatu yang bermakna banget. jiah lebay bener yah aku ngemengnya.
Pas masuk kamar doi, ada 2 tembok yang bener-bener jadi pusat perhatian aku banget. Kedua tembok tersebut ditempeli Atlas. Tembok di sebelah kiri pintu, tertempel tuh sama yang namanya Atlas Eropa. Di atasnya ada untaian foto-foto yang bagiku bermakna banget. Imaji-imaji nyata berwaktu yang dapat terbiaskan dan tercetak dalam sebuah bentuk kertas. seingatku ada 7 atau 8 foto gitu.
Di tembok sebelah kanan pintu. tertempel lah Atlas Indonesia. Tidak hanya Atlas Indonesia disana, tetapi ada pula tulisan-tulisan dengan banyak isyarat semangat pemuda yang bersifat willing banget. argh! itu seperti sebuah tamparan!!
Tapi serius deh; kamar dia itu bener-bener dia banget. dan itu orisinil banget. entah yah, kayaknya aku kelainan jiwa dengan menyukai sesuatu yang orisinil (kayak mukaku orisinil aja). Karena kamar itu sebenernya adalah milik yang punya kamar. dan aku suka banget kalo aku memasuki kamar seseorang, aku bisa tahu bagaimana dia di dalam dirinya dia. Karena sejujurnya, Kamar tuh ga seharusnya dimasuki oleh sembarang orang; jadi sebuah kehormatan bagiku saat itu untuk bisa masuk kamar yang bener-bener lovely banget.
lovely pada konteks doi, sebenernya aku udah menduga dia emang orang yang lovely dan easy going, pas masuk ke kamar itu, dugaanku melebihi ekspektasiku yang terlalu nyuplik banget
Dia itu jauh lebih menghargai orang dan moment daripada yang biasa terlihat dalam keseharian. itu terbukti dari beberapa hasil karya orang yang doi pajang di atas atlas dan foto-foto. Dia juga terlihat menyukainya, meskipun dalam bentuk seni itu bagus tapi biasa. Selain itu, jepretan-jepretan yang dia pajang di bawah hasil karya orang lain untuknya, juga merupakan momen-momen penting yang orang akan justru ga akan peduli atau terlintas untuk memajangkan atau sekedar mengingat kembali masa seperti itu. tapi toh, Doi melakukannya. keren banget cara dia mengapresiasi kehidupannya, orang-orang dihidupnya, dan memaknai momen tersebut.
Apalagi kalaiu ngomongin tentang coretan-coretan dari kertas kecil yang banyak di atas atlas Indonesia. It's Amazing. List pencapaian yang tidak muluk tetapi aku sangat yakin dia dapat mencapainya.
Dulu, aku melakukan hal yang sama dengannya di umurnya yang seperti itu juga. tetapi aku tidak mencapai pada pendewasaan mental dan kesadaran pengembangan diri seperti yang telah didapatkan Doi.
Yah, kiranya sudah nyaris 2 tahun aku melupakan semua cara dan pencapaian itu. Pergi menjelajah. Aku masih belum pantas untuk menulis seperti yang dilakukan Doi. Malu rasanya, di umur yang segini, bahkan Juniorku jauh lebih hebat mengontrol dirinya.
Aku pun mempunyai kamar. tapi aku tidak mempunyai kesanggupan untuk menunjukan diriku lagi meskipun itu dalam zona privasi. Semua atlas, peta kehidupan, peta petualangan, dan poin-poin hasil chunking down semuanya telah menjadi abu yang hanyut bersama aliran air di sungai terbesar di pulau terbesar di bumi pertiwi ini.
Ada sebuah kutipan dari sebuah cerita. aku mengingatnya dan aku sebal karena aku ternyata sedang ada dalam tempurung itu.
Inilah kehancuran dari diriku.
Apalagi kalaiu ngomongin tentang coretan-coretan dari kertas kecil yang banyak di atas atlas Indonesia. It's Amazing. List pencapaian yang tidak muluk tetapi aku sangat yakin dia dapat mencapainya.
Dulu, aku melakukan hal yang sama dengannya di umurnya yang seperti itu juga. tetapi aku tidak mencapai pada pendewasaan mental dan kesadaran pengembangan diri seperti yang telah didapatkan Doi.
Yah, kiranya sudah nyaris 2 tahun aku melupakan semua cara dan pencapaian itu. Pergi menjelajah. Aku masih belum pantas untuk menulis seperti yang dilakukan Doi. Malu rasanya, di umur yang segini, bahkan Juniorku jauh lebih hebat mengontrol dirinya.
Aku pun mempunyai kamar. tapi aku tidak mempunyai kesanggupan untuk menunjukan diriku lagi meskipun itu dalam zona privasi. Semua atlas, peta kehidupan, peta petualangan, dan poin-poin hasil chunking down semuanya telah menjadi abu yang hanyut bersama aliran air di sungai terbesar di pulau terbesar di bumi pertiwi ini.
Ada sebuah kutipan dari sebuah cerita. aku mengingatnya dan aku sebal karena aku ternyata sedang ada dalam tempurung itu.
"Aku bermimpi di saat aku tidak cukup waktu untuk bergerak; aku pun kin menjadi realistis di saat aku sudah mengubur semua mimpi; aku pun detik ini bangun dikarenakan sebuah mimpi buruk"damn!
Inilah kehancuran dari diriku.

No comments:
Post a Comment