Apakah kamu akan menerima sebuah kebenaran dengan keterbukaan jika kebenaran itu membenturkan 'jiwa kamu selama ini'?
Jadi, suatu ketika saya sedang piknik dengan sekelompok orang di atas ketinggian. Memang sebuah kebiasaan jika kami berpiknik di atas ketinggian, kami senang berbicara banyak hal. dari gosip sampai banyak pertanyaan kehidupan. entah itu harus dikomentari atau tidak, terjawab atau tertanyakan terus, poin utama dalam piknik tersebut adalah kita berkumpul yang tidak asal berkumpul karena kami bukanlah monyet!
Dalam perjalanan menapaki tanah yang lebih tinggi, saya berfikir banyak hal, karena saya berpergian memerlukan tempat berfikir. yah, terkadang dunia tempat berpijak menuntut saya banyak merenung. Lebih tepatnya, saya sedang belum dapat deal dengan diri saya sendiri. Okay, saya saat ini adalah sampah karena saya mempunyai banyak "willing" sebagai suplemen hidup saya. tapi itu semua masih lah berupa teori dan saya sendiri belum sepenuhnya deal dengan teori tersebut agar sejalan dengan sikap saya.
tapi lupakan itu. itu hanya asal-usul kenapa pertanyaan itu datang
Ketika seseorang dalam kelompok perjalanan saya mengemukakan pendapatnya dan pertanyaannya bahwa 'apa sih tujuan kita hidup? toh akhirnya aku ngerasa kalau hidup itu tempat yang kita bertemu dengan orang-orang yang senasib seperti ungakapan -salah seorang pencetus ide existentialism.saya lupa namanya-bahkan menurutku itu bohong ketika ada orang yang mengenal dirinya sendiri, karena dia sendiri ga tahu dirinya tuh apa di dunia ini' atau ketika dia bertanya mengenai 'mana yang lebih nyata menderita atau merasa menderita'
Ga masalah jawaban saya apa. karena saya sendiri tahu bahwa dia sudah merasa dirinya benar dan dia bertanya untuk melihat apakah dunia mendukungnya. tapi yang saya utarakan berupa antisilogisme dari miliknya; seperti : menderita nyata jika menderita adalah efek dari terganggunya saraf sakit (karena doi berprasangka bahwa merasa menderita itu nyata) dan ketika saya mengatakan 'aku kenal diriku sendiri kok karena itu aku belajar ilmu nuklir. aku tahu tujuan kehidupanku karena itu aku berpegang teguh sama keimananku sendiri. aku mempercayai akhir kehidupan karena itu aku memegang al-qur'an sebagai perwujudan paling mudah dalam kebenaran. maka, aku hidup dan berkomunikasi dihadapanmu bukan karena kita senasib; dan blah-blah-blah lainnya'
Entah apa yang terjadi dari dalam dirinya setelah itu. Yang aku terima hanya sebuah respon dingin di hari kemudian dan perjalanan pulang.
lalu aku refleksi.
Apakah saya seperti dia?Apakah saya sudah berlaku seperti dia?
mungkin jawabannya adalah Iya.
lalu aku melontarkan pertanyaan :
Apakah kamu akan menerima sebuah kebenaran dengan keterbukaan jika kebenaran itu membenturkan 'jiwa kamu selama ini'?
Lantas, apa yang ada difikiran dan apa yang semestinya ada difikiran? Saya menulis beribu pertanyaan karena saya tidak tahu jawaban yang seharusnya dalam perspektif aktual. meskipun secara teoritis akan mudah dijawab jika dijabarkan dalam banyak pertanyaan lagi seperti :
- Kebenaran akan apa?
- Apakah itu memang benar-benar sebuah kebenaran?
- Apakah kamu memahami apa artinya kebenaran?
- Apa bukti dari kebenaran yang sedang kamu hadapi?
- Apa dasar dari bukti kebenaran yang sedang kamu hadapi?
- Keterbukaan seperti apa yang dimaksud?
- Apakah keterbukaan itu penerimaan mentah-mentah seperti mendapatkan doktrin?
- Apakah keterbukaan itu semacam penampungan yang nanti siap kamu saring?
- Bagian apa yang membenturkan kebenaran yang sedang kamu hadapi dengan 'jiwa kamu selama ini'?
- Apa alur logis yang bisa dijabarkan dalam premis-premis yang memang logika lurus bukan sebuah falesy?
Begitu Pragmatis bukan? tapi itulah teori-teori dalam dunia sekular; selagi kita masih berdebat mengenai kebenaran hakiki yang hanya dimiliki maha Kuasa. Teori-teori dalam dunia sekular bisa membantu asalkan itu memang sesuai premis-premis logis.
Lagipula saya mencoba menjadi penganut teori-teori pemikiran dari Rene Descartes. hal yang sama yang diajarkan kehidupan saya.
tampung saja dulu semua informasi. kumpulkan pula kontrapernyataannya juga. kemudian menjauhlah dari kesemuanya untuk merenung. tanyakan dan ragukan segala hal (kesimpulan essay buah karya Rene Descartes dalam Discourse). renungkan. Temukan, Imani, dan Hikmahi hasil kebenaran tersebut.
Tapi serius deh. 4 paragraf di atas semua itu pernyataan saya.
Saya merasa benar karena saya terhikmahi atas kehidupan saya sendiri. tetapi ga akan ada jaminan kalau itu memang benar secara hakiki karena 'merasa benar' itu masih memiliki kemungkinan 'tidak benar'. Karena itulah saya melontarkan pertanyaan besar di atas segala pertanyaan kecil lainnya.

No comments:
Post a Comment