A THOUSAND QUESTION #12

"Kenapa orang memutuskan sesuatu?"




Yippieee. Ini angka 12!! Angka kesukaan? Hm, biasa aja sih. 
Hanya saja angka 12 itu mengingatkan saya akan umur 12 saya. Masa SMP. Masa normalnya saya sebagai ABG. Bertindak layaknya ABG. Berfikir layaknya ABG. Bertingkah  layaknya ABG. Saya hanyalah ABG normal di masa itu. 
Berteman. Membentuk zona nyaman. Berlagak. Berdrama. Mengencani senior anak basket yang juga anak band. Menjadi unggulan di kelas unggulan. Mendengarkan musik. Bertalenta di kesenian rupa. Maiden of mading and school magazine. Memasuki tahap emo girl. Maiden of soccer team. Menemukan cinta sejati. Menjelajah diam diam bersama cinta sejati ke tiap tempat di dunia kami tanpa ketahuan orang tua kami. Membaca komik. Memasuki fase menjadi gololi (gothic lolita). Mewarnai rambut. Mengkriting rambut. Meluruskan rambut. Nonton film di bioskop tiap bulan. Pergi ke mall tiap hari sabtu minggu. Berbincang di telpon dari jam 7 sampai jam 10 malam. Memamerkan selular. Membaca majalah fashion. Berisik.
Oh, GOD! How glad I am! I have had a normal teen phase!!
Berbeda dengan umur 15 tahun. Masa pendidikan SMA yang... ewwwkh, forget it.


Tapi bukan itu yang jadi pembahasan saya.

Pembahasan ini diboosting dengan secangkir kopi super panas yang membakar lidah saya siang ini. Alunan lagu dari the lumineers yang senada denfan suara serangga. Hey, listen up! That is sound of spring!! Yeeeaaaay! Welcome my favorite season!

Kenapa orang memutuskan sesuatu?


Pertanyaan ini memulai flash back dari memory saya. Sekutar seminggu yang lalu, saya mengingat bahwa ibu pernah berkata begini: "ibu bersyukur anak ibu ga ada yang kecanduan obat, ga ada yang kecanduan alkohol, ga ada yang ngerokok" 
Hehe. Aku saat itu cuma menyengir. Well, aku sudah hidup terpisah dengan keluarga dari SMA, wajar kalo aku menemukan pengalaman-pengalaman dengan sendirinya dan tentunya tanpa ketahuan ibu. 

Stop, jangan buru-buru menstereotipkan saya anak badung.
Pembicaraan itu sebenernya dimulai dari pernyataan saya atas berita kriminal berlandaskan cinta segitiga.



"Gosh, sebegitu sulitnya kah mempunyai remaja di zaman sekarang? Sebegitu sulitnyakah menjadi orang tua di zaman sekarang?"


Dan jawaban ibuku: "memang tidak semudah yang dibayangkan, nduk"
Haha... miris.
Iya sih, pada akhirnya memang membesarkan sesuatu tidak semudah memutuskan mandi di pagi buta (sumpah itu sulit banget buat saya). Keluarga kecil ibu saya saja banyak rintangan yang akhirnya melahirkan sosok seperti saya, dan kakak lelaki saya. Belum keluarga besar bapak saya yang dilemanya bener bener dilema keluarga di sinetron; perselingkuhan, korupsi, gila harta, sirik-sirikan, ngobat, rasis, adu ideologi, perceraian (ini dari keluarga kecil kami). Urgh, drama kompleks banget lah. Pengamatan lika liku keluarga bertambah ketika ibu menikah dengan papa. Yippie, aku punya keluarga baru! Hanya gen dari keluarga ibuku yang adem ayem. Berdiri di lingkungan drama keluarga lain. Yang otomatis jadi salah satu pelakon juga sih. hahaha.

Gosh, kenapa orang bisa memutuskan sesuatu?
Untuk menikah, membangun keluarga!!


Apa hanya aku satu satunya orang yang ketakutan akan gagalnya membesarkan keluarga? Segala lika liku dan pengorbanan tiap wanita di keluarga saya begitu besar dengan cara mereka masing masing! Demi buah hati mereka! Dan apakah pengamatanku itu hanya angin lalu? Apa kah ada jaminan bahwa saya tidak akan mengalaminya? Apakah ada jaminan bahwa ketidaksiapan saya saat ini akan berubah nantinya? 
Yap, saya belum siap menjadi wanita sabar yang rela kuliah sekelas dengan buah hati paska rehabilitasi, saya belum siap menjadi wanita yang menangis tiap hari karena suami saya punya anak di luar pernikahan, saya belum siap menjadi wnaita yang menjadi gila kerja hanya karena suami saya mengancam akan menceraikan saya setelah saya pensiun, saya belum siap menjadi wanita yang 'menjual' anak gadis cmeerlang saya kepada lelaki mapan dengan keluarga mapan, saya belum siap menjadi wanita dengan segala keterbatasan keadaan dan mengeluh kepada anggota keluarga lain. 
Bukan seperti itu keluarga kecil dalam big vision yang saya bangun!



Itulah, mengapa saya memilih tidak memutuskan sesuatu! dan tetap bertanya: "KENAPA ORANG BISA MEMUTUSKAN SESUATU?"
Mengenai berkeluarga. Sudahkah terbayang akan nantinya? Akankah ada kesiapan? Apakah pernikahan hanya legalitas vagina ketemu titit? Apakah pernikahan ada hanya untuk perceraian? 
ugh.


Atau hal kecil lainnya. 
Seperti... 

Kenapa para orang tua memutuskan agar sebisa mungkin anaknya tidak menyentuh narkoba, alkohol, dan rokok?



Oke lah kalau itu mungkin tidak sehat. Dengan banyak argumen ilmiah yang ada. 
Tapi apa argumen itu dapat sejatinya mengkristal dalam benak anak?



Ini jujuran dari aku dan kakak lakiku. 
Kakak lakiku pernah merokok di SMP nya dia. Sekarang dia adalah lelaki sejati tanpa rokok. Alasannya, dia sudah merasakan enaknya merokok, ataupun 'ngerumput'. Tapi dia udah merasakan enggak enaknya semua itu!
Kakak lakiku mungkin pernah merasakan alkohol di masa young adultnya. Tetapi dia tidak ingin menyentuhnya. Argumennya: "ngebuat gue tolol dan konyol"
Saya sempat kecanduan obat tidur. Saya menyenangi tembakau dan cengkeh. Saya mengkonsumsi vodka, dan cocktail ringan. Tapi entah mengapa saya lebih cinta coklat, kue manis, duren, apel, kangkung, renang, yoga, buku, film serial, tempe, merajut, menyulam, teh, meditasi, greentea whip, bunga, pertanyaan, kristal atom, dan ..... the new favor... coffee.

Okay, dunia ini banyak excuse. No matter what it is.
inget dialog salah satu serial TVD. ucapnnya Damon Salvatore: 

"Gimana bisa menahan hasrat meminum darah kalau, dia sendiri tidak mengenal enaknya meminum darah langsung dari nadi. Itu curang. sama seperti memperkenalkan anak kecil kalkulator sebelum dia mengenal matematika"

ew, saya menganalogikannya menjadi:
"bagaimana bisa memutuskan sesuatu (khususnya melarang) ketika tidak ada kapasitas wawasan yang dimiliki untuk membangun keputusannya itu (maksudnya: padahal si pelarang tidak pernah mengetahui sensasi apapun yang dilarangnya itu)?"

mm... 
ada yang mengganjal sih, akhirnya malah jadi ke pernyataan yang saya ingat:
"ada beberapa pelajaran hidup yang harus dialami ada juga pelajaran hidup yang diambil dari cerita orang"

Apapun lah. Saya bingung meluruskan banyak benang kusut dalam pemikiran saya. setiap pernyataan pasti berujung pertanyaan lagi. Jawaban. Pernyataan. Pertanyaan. Jawaban. Pernyataan. Pertanyaan. Begitu seterusnya. 
Berfikir memang tidak terbatas dan tidak punya batas tampaknya. Membuat saya terus mencibir karena tidak akan pernah ada akhir dan ujung. 

Sekarang benak saya hanyalah: "GOD, MOM, terimakasih telah memberikan akal berfikir, wawasan dan cerita pengalaman menjadi dasar kehidupan, dan lingkungan yang memperkaya dan telah mengkristalkan banyak 'harta' kehidupan" entah gimana bisa dan gimana caranya mereka melakukannya.

No comments:

Post a Comment