"Apakah mungkin bertemu dengan para rasul, nabi, sufi, dan kekasih Tuhan?"
Awalnya, setelah saya berenang, diperjalanan saya berfikir :
"Untuk apa sih saya berubah? Kalau pun berubah, mau jadi apa? Untungnya apa?"
Lalu pertanyaan lainnya memulai aksi aneh.
"Rasul, nàbi, sufi, dan kekasih Tuhan senang dengan kelakar ga ya?"
Akh, setelahnya sebenernya cukup sebuah hal yang pribadi. Karena akan sangat dianggap kurang ajar. Tapi ya sudah sih, saya sudah tidak begitu peduli dengan norma dan aturan yang tidak sejalan dengan logika-logika pembentukan 'saya'.
"Apa jadinya, kalau saya bisa minum teh sore bersama rasul, nabi, sufi, dan para kekasih Tuhan berkelakar ringan di sore hari di sebuah taman hijau, rindang, harum dengan buah masak dan bunga-bunga lembut? Atau apa jadinya, kalau saya bisa menghabiskan kopi pagi saya bersama dengan rasul, nabi, sufi, dan para kekasih Tuhan di dalam ruang makan, sembari menonton berita, menulis pesan, membaca koran, dan berdiskusi ringan mengenai apa yang terjadi kemarin, apa yang akan dilakukan di hari ini, kebaikan dan keburukan yang sudah dan akan dilaksanakan. Bagaimana jika itu terjadi?"
Pastilah akan sangat sulit mencapai kondisi seperti itu. Karena dapat duduk bersama dengan para rasul, nabi, sufi, dan kekasih Tuhan bukan sebuah kesempatan biasa. Mereka adalah orang-orang dengan derajat tinggi, yang melihat dunia dengan sudut pandang yang tidak lazim. Orang-orang dengan karakter diri, jasad kuat, dan ruh yang sempurna pastilah bukan taraf untuk para manusia biasa.
Jika, saya mempunyai keinginan untuk dapat duduk bersama dengan mereka, maka aku harus berubah. Berubah hingga batas tidak terlampaui.
"Tetapi berubah yang seperti apa yang dapat membawa saya menjadi pribadi yang pantas duduk bersantai bersama para rasul, nabi, sufi, dan kekasih Tuhan?"
Mari terus bertanya tanpa ujung.

No comments:
Post a Comment