A thousand question #13

"Buat apa kamu malu dengan apa yang ada di dalammu?"

Pertanyaan itu keluar pertama di dalam kehidupan saya saat saya berumur 6 tahun. Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulur ibu saya. Mungkin saat itu ibu sedang gemen menghadapi anak perempuannya yang pengecut. Hehe.

Pertanyaan itu, baru kebas terhadap diri saya, setelah saya hampir menginjak umur 23 tahun. Hahaha.

"Buat apa saya malu sama apa yang saya miliki?"

Secara fisik, saya memiliki kelengkapan yang cukup memikat. Mungkin kulit dan rambut saya tidak indah, tapi saya bisa merawatnya menjadi kulit sehat karena saya tahu cara hidup sehat. Tapi bentuk asli dari default saya sangat indah. Di umur saya, saya memiliki kuku, binar mata, dan postur yang baik. Ga pedulu berapa banyak manusia yang mempunyai kelebihan lainnya dibanding saya. Saya cukup bangga dengan kepunyaan saya.

Begitu juga dengan kepercayaan saya. Yep, I'm a believer. I'm a samawi. I pray to god. I am asking to god. I am begging to god. I am grateful to god. Everything in ME and everything around my lives is all about GOD. I called my god as ALLAH. I have a rasul, MUHAMMAD. I trust prophets. Every night, every quarter clock, I denoted those on every pray. But I believe angels (malaikat), demons (jin), invisible creatures (siluman), nature's law (hukum semesta), animals (binatang) are living as like as humans (manusia).  Bonding together to be living and having a higher spiritual connection.

Itulah saya. Saya bahkan tidak peduli jika saya bahkan dihujat oleh sesama agama saya. I won't never look back, anymore. I've been settled, and I've settled on my faith.
No one can change me!

"Akan ada waktu, di saat orang-orang dengan otak yang berfikir, bertanya, dan jujur, akan melihat kebenaran semesta dalam ajaran islam yang sesungguhnya. Di saat itu lah, orang-orang yang BARU berfikir, bertanya, dan jujur, akan meninggalkan islam. Bersiaplah dengan kenyataan itu, anakku. Duniamu akan siap menyerang setiap keyakinanmu dengan emblem kebenaran paradox"

Itu tadi adalah salah satu isi percakapan saya dengan alm. Papa dhany. Tidak ada yang mengetahui seberapa bersyukurnya saya dipertemukan dengan beliau; seberapa pecahnya segala masa depan saya ketika beliau meninggal; seberapa sulitnya saya bangkit dari pemikiran 'saya bukan anaknya' paska pemakamam beliau. Bahkan beliau pun tidak pernah mengetahuinya. Hanya tuhan dan semesta yang mengetahuinya.

Islam adalah agama saya. Dengn cara saya melihat, menemukan, memikirkan, meresapi, mengimani, dan menghikmahi adalah bagaimana saya mempercayai seluruh dunia, bagaimana saya dapat memanjatkan tiap sanjungan, bagaimana saya mengingat tuhan dan kuasanya, adalah kepercayaan saya.

Saya tidak akan pernah lagi malu dan menyerah dengan apapun yang saya miliki. Terutama kepercayaan saya. Itu harga mati saya.

No comments:

Post a Comment