Romantisasi dalam duka

"Would you know my name If I saw you in heaven?
Would it be the same If I saw you in heaven?
I must be strong And carry on 'Cause I know I don't belong Here
in heaven
Would you hold my hand If I saw you in heaven?
Would you help me stand If I saw you in heaven?
I'll find my way Through night and day
'Cause I know I just can't stay Here
in heaven
Time can bring you down
Time can bend your knees
Time can break your heart
Have you begging?
please Begging please
Beyond the door
There's peace,
I'm sure And I know there'll be no more Tears in heaven"

Entah mengapa, saya sedang rindu. Tidak takut akan kematian dan tidak mempercayai eskatologis, bukan berarti saya tidak pernah kehilangan atas kematian.

Ya, saya rindu pada kedua cinta dunia saya.

Mereka yang telah terpisahkan antara jasad dan ruh, saya yang masih tergabungkan antara jasad dan ruh.
Jasad mencari keberadaan jasad lain. Itu derajat kelemahan dari jasad saya.
Saya hanya mengharapkan pertemuan jasad ketika saya masih jasad-ruh yang bergabung.
Sampai nanti, saya hanya mengharapkan pertemuan ruh ketika saya telah membebaskan ruh.

Arman, Papa, sungguh saya sedang merindukan kalian. Akankah kalian melihat ku?

Saya ingin secepatnya melewati tahap pelatihan ruh ini. Menjadi dekat dengan kesempurnaan hingga titik nadir jasad ini bertahan. Secepatnya.
Dan berkumpul bersama di rumah. Rumah, asal ruh kita lahir.

No comments:

Post a Comment