"Ketika harus memilih antara iman dan logika, mana pilihanmu?"
Itu adalah pertanyaan saya sekitar 3 hari lalu. Sebelum akhirnya saya akan menghabiskan malam kedua di sebuah kamar eksekutif hotel berbintang 5.
Eit, jangan salah sangka. Mentang-mentang kamar hotel, hotel mewah, bermalam, wanita lantas menduga bahwa saya adalah wanita binal.
Tetoooot.
Balik lagi, bagi saya, liburan di saat mempunyai tanggung jawab, itu sangat tidak etis. Itulah mengapa saya bertanya. Itu jalan logika saya, tetapi saya sudah terpartri akan keimanan seperti:
"Jangan pernah membatasi gerak, rencana, dan kuasa Tuhan"
"Tujuan hidup saya adalah melatih akal yang bawaan hakiki dari ruh manusia, menjadi sempurna. Karena itu saya harus melatih diri dalam usaha tanpa luput sedetik pun untuk berfikir"
"Kembalikan dan tanyakan kepada sang pemilik"
"Tidak ada yang pantas ditakutkan di dunia ini kecuali Tuhan dan Hukum alam semesta"
Memutuskan melakukan perjalanan ini pun tidak mudah bagi saya. Ya karena itu tadi, ini seperti melepas tanggung jawab! Perasaan kalut, takut, dan cemas segalanya dalam benak saya. Kemudian sedikit kontemplasi internal diri mengenai ketakutan, dan kuasa pemilik jasad dan ruh diri saya; sedikit demi sedikit keraguan terangkat. Seperti itulah berserah diri dalam versi kehidupan saya.
Saat itu, logika itu masih mengendalikan moral tanggung jawab saya. Menyelesaikan skripsi, mengurus adminitrasi untuk seminar. Semuanya sudah terencana dan direncana oleh otak saya. Jika satu langkah telat satu hari saja, sudah tidak ada jalan lagi.
Seketika, saya bertanya kembali:
"Harus apa? Insting atau akal? Logika atau moral? Jasad atau ruhani?"
Pertanyaan ambigu bagi diri saya. Itu adalah pilihan yang tidak seharusnya dipilih. Karena bagi saya, keduanya memiliki prioritas yang membangun diri.
Maka, saya jabarkan kembali detik itu juga. Mencari esensi makna, kemudian berikanlah batas jelas. Yah, seperti mencari jawaban dari sudut epistemologi.
Jawaban yang saya dapat adalah:
Insting dari jasad dan membawa moral kemanusiaan.
Akal dari ruhani dan membawa logika aturan kebenaran semesta.
Berusaha jasmaniah, kebanggaan, perasaan, insting bertahan hidup dan eksis adalah sifat hakiki dari jasad manusia.
Kelulusan? Lalu prestasi? Lalu pujian? Lalu tuntutan? Lalu bertahan? Lalu bersiklus? Itu bukankah sangat binatang? Artinya, itu adalah moral dari jasad kemanusiaan.
Berjudi akan peluang seminar dan lulus periode mei, secara logika, dan melihat hukum aksi-reaksi (tanpa berharap dewi keberuntungan) juga kesiapan (dnegan makna esensi), memberikan peluang kecil.
Menargetkan tetapi meyakini ada hal lain yang harus dikerjakan, seperti mengabaikan dan membatasi rencana dan kuasa Tuhan.
Peremehan, bahwa setelah lulus dapat mulai memikirkan segala hal secara runut, itu seperti nafsu bahwa saya tidak INGIN diganggu. Itu bukan berfikir logika namanya. Itu berfikir nafsu namanya.
Berfikirlah, gunakanlah akal di tiap detikmu. Lindungilah suara semesta dengan ucapanmu.
Berakhir sudah pencarian epistemologi saya. Saya memilih berfikir tanpa henti. Perjalanan yang saya pilih akan memberikan banyak jawaban dan pertanyaan nantinya.
Maka, disini lah saya. Melakukan perjalanan. Merasakan bahwa semesta sedang mendukung perjalanan ini. Menyadari bahwa semesta sedang melindungi diri saya dalam perjalanan ini.
Di sinalah saya, mempercayai bahwa saya selalu dalam keadaan sedang disiapkan. Anehnya, saya berjuang berserah diri. Hahaha. Jika ini adalah sebuah ironi, maka ini adalah ironi yang paling menghidupkan.
Dan disinilah jawaban saya, iman saya telah terbentuk dan tersaring dari logika saya. Logika saya pun bagian dari iman saya. Ini seperti paradoks telur dan ayam. Jangan pertanyakan mana yang duluan.
Hanya saja, akankah saya mendapatkan banyak pertanyaan lagi yang menarik dicari dan dijawabkan?
"Akankah iman dan logika saya cukup kuat mendapatkan pertanyaan lainnya?"

No comments:
Post a Comment