"Bagaimana seharusnya do'a itu terucap?"
Agak sensitif sih terkadang pertanyaan yang satu ini. Tapi pertanyaan ini muncul di tiap hari saya beraktifitas. Saya pun igat sejak kapan saya mempertanyakan pertanyaan ini; sejak tahun 2 tahun lalu, awal tahun ketiga saya kuliah. Haha, sebuah masa kegelapan bagi saya.
Saya melontarkan pertanyaan tersebut ke ibu saya. Seorang pragmatis yang percaya dengan kuasa Tuhan melebih apapun. Dalam versi beliau, do'anya bukanlah hal spesifik, do'a adalah sesuatu kebaikan, meminta kebaikan dan yang terbaik dalam versi sang pencipta. Guru terbaik dalam materi pembelajaran ikhtiar adalah beliau.
Di sisi lain, saya melontarkan pertanyaan tersebut kepada Papa saya. Seorang penganut eskatologis islam. Cara Do'a yang beliau ajarkan adalah do'a 2 arah, seakan dalam do'a, sang pencipta berbincang bersama.
Di sudut lain, pertanyaan yang sama saya lontarkan kepada sahabat saya, seorang penganut suatu agama ortodok yang taat. Do'a dalam versinya nyaris sama dengan do'a versi ibuku, hanya di dalamnya dia menambahkan kesadaran aksi-reaksi.
Di waktu yang lain, sebelum saya melontarkan pertanyaan kepada ibu, papa, dan sahabat saya, saya pernah terlibat diskusi. Di dalamnya berkenaan dengan sebuah do'a. Pertanyaan nyinyir keluar dari seseorang :
"Memang Tuhan butuh do'a kita? Memang sebegitunyakah do'a kita sampai do'a kita lebih kuasa dibanding kuasa tuhan?"
Adalagi pernyataan:
"Kasian sekali Tuhan, dibutuhkan ketika umatnya butuh. Dipanggil ketika terdesak dalam kehidupan. Do'a digunakan sebagai media pelepasan rasa sulit"
Di pencarian saya, ada tulisan yang menyatakan bahwa setiap kata dan ucapan membawa frekuensi yang bisa tertangkap oleh lingkungan. Frekuensi tersebut bisa merusak atau bahkan menjaga. Itu sesuatu yang random.
Ada sebuah film yang saya tonton waktu kecil, yang inti cerita yang saya dapatkan adalah: berhati-hati dengan permintaan kepada tuhan. Dalam film tersebut, ada remaja perempuan igin disanjung agar memdapat perhatian maka jadilah ia sebuah patung taman dan orang-orang yang melihat patung remaja tersebut memuji dia cantik.
Pemikiran saya pun memiliki opini tersendiri. Jika do'a tersebut memang sebuah media dimana sang pencipta mendengar saya, saya tidak ingin menjadikan do'a saya sebagai sesuatu yang sia-sia. Meminta, menuntut dalam do'a tidak akan memberikan jawaban atas masalah kehidupan, bagi saya. Anggap saja do'a itu seperti pemikiran yang tidak matang karena belum ada aktualisasi dalam kehidupan nyata, padahal jasad manusia hidup dalam sebuah aksi bukan dalam pikiran. Maka, do'a itu seperti hanya pemberi sugesti ke semesta, tidak akan terealisasi jika tidak ada aksi. Sebuah konsep aksi-reaksi tentunya.
Tapi, sebuah cara do'a seperti papa adalah do'a yang masih saya cari tahu. Ketika manusia tidak mempunyai kuasa melihat menuju dimenai teratasnya, tetapi dimenai teratasnya mempunyai kesempatan berkomunikasi di dimensi terbawahnya, maka (saya rasa) itulah kunci dari do'a yang papa saya lakukan.
Manusia memiliki akal untuk mengumpulkan, memproses, memaknai segala kejadian. Ketika manusia memiliki do'a dan bahasa, maka dimensi teratas manusia memiliki segenap semesta. Maka, pertanyaan dalam do'a yang papa ajarkan adalah sebuah pilihan dengan bahasa yang jelas. Semesta pun sesuatu yang jelas dalam mata manusia.
"Bagaimana cara kerja do'a tersebut?"

No comments:
Post a Comment