A thousand question #19

"Kenapa target itu harus sebuah nominal yang terkuantisasi?"

Pertanyaa itu sebenarnya keluar seminggu lalu ketika saya sedang hot-hotnya merasakan desiran tertarik dengan seseorang. Hem... kala itu, saya sedang berfikir apakah saya ingin stagnan dalam kehidupan? Ketika saya menjalankan sebuah kehidupan yang mengejar kualitas, lantas apa?

Saya belajar mengkuantisasi target ketika masa ospek saya. Itu hal mudah bagi saya karena saya seornang visioner. Sampai sekarang visi tersebut belum luput sama sekali dari kehidupan sebenarnya saya. Balik lagi, lantas apa?

Saya berfikir seakan adalah sebuah kesombongan, ketika manusia mengkuantisasi target dalam kehidupan. Hellooooo, saya pemercaya bahwa manusia sudah ada jatahnya masing-masing; turunnya jatah tersebut tergantung penjemputan dan aksi kehidupan yang dijalanin. Maka, penjemputan dan aksi kehidupan menjadi kebebasan yang diberikan pencipta. Kembali lagi, saya sudah pengejar kualitas, lantas apa?

No comments:

Post a Comment