"Apakah anda sudah di puncak? Lalu apa?"
GOD!! Saya sedang merasakan sebuah kejenuhan. Okey, jadi begini kelanjutannya. Di post beberapa hari sebelum inu, saya telah menceritakan bahwa saya melakukan sebuah perjalanan. Kemudian kelanjutannya adalah....
Jeng jeng jeeeeeng
Saya bosan.
Hmmm... baru kali ini saya merasakan sebuah tingkat hidup super nyaman, aman, tentram, sejahtera, dan eksklusif. Tanpa merasakan sebuah beban moral, atau apapun. Merasakan sesuatu kehidupan tanpa lagi mempunyai tujuan pencapaiam apapun.
Demi semesta dan hukum alam. Sungguh itu tidak mengasikkan.
Rasa tidak mempunyai sebuah pencapaian, tidak mempunyai tujuan dan puncak yang dituju, tidak ada hambatan ataupun tantangan atau beban pikiran, tidak ada ancaman, tidak ada rasa takut.
Gosh!
Sungguh, itu bukan kehidupan.
Saya ingat sebuah konsep pemikiran yang saya dapatkan dari dosen saya:
'Pada dasarnya manusia mudah berpuas diri. Kepuasan diri manusia yang membuat manusia menjadi tidak lagi berkembang. Ketika manusia berhenti mempunyai tekad, sudahlah, itu ujung dari peradaban manusia. Apakah anda seperti itu?'
Hm, saya mendapatkan ucapan tersebut dari HBS the white. Hohohohooo, memang kesannya saya mengejek beliau, tapi sesungguhnya saya sangat mengagumi beliau. Mungkin disepanjang hidup saya, saya akan menyebut nama beliau di tiap credit saya.
Sebuah pertanyaan yang selalu saya ucapkan tiap pagi :
'So what, suk?? SO WHAT!? So, what if I do something today? So, what if I kind? So, what if I bad? So, what if I finally get everything a whole thing that I wanted? So, what if I lost everything that I have?'
Sungguh, sebuah kesulitan baru saya rasakan, ketika saya sangat mengimani sebuah konsep aksi-reaksi, mengimani hukum thermodinamika, mengimani dan mencaritahu konsep mekanika kuantum.
Saya rasa inilah transisi saya.
Saya yang dahulu selalu diliputi rasa takut dengan segala hal yang berhubungan dengan interpersonal, dan eksternal environment. Kini menjadi manusia super skeptis dengan apapun.
Dan apa itu rasa takut? Itu ilusi gelombang. Tidak ada sebenarnya ketakutan itu. Tidak ada ketakutan yang pantas ditakuti kecuali TUHAN, dan hukum alam atau semesta.
Lantas, saya berfikir:
'Apakah kebosanan seperti ini yang saya harapkan ketika saya berharap ada di puncak pencapaian jasad?'
Tidak ada yang tahu.
Tetapi, saya lebih suka memilih untuk tidak ingin akhir yang seperti itu.
'Jadi, puncak apa yang ingin saya dapatkan?'
Puncak yang tak terbatas. Dimana diatas puncak masih ada puncak lain. Kurasa.

No comments:
Post a Comment