"Are you brave enough?"
Pertanyaam ini muncul ketika saya berdiri menghadapi cermin. Bukan saya takut akan pantulan wajah saya di cermin, tetapi saya lebih menatap apa yang telah terjadi.
Ketika kamu telah mengalami segala kepahitan, ketika kamu telah diberikan sebuah berkah petunjuk, ketika segala ketakutanmu terangkat, ketika kamu telah memiliki keyakinan, memang segala hal menjadi begitu mudah. Seperti dalam film divergent, orang-orng divergent merupakan orang-orang yang diberi berkah dengan kontrol pikiran yang tinggi. Itu bukanlah sifat alamiah jasad manusia, justru itu merupakan sifat dari betapa tingginya derajat ruh manusia tersebut berkerja.
Lain halnya, dengan saya. Ketika saya telah 'cukup' menyicip, ketika saya telah belajar, ketika saya diberkahi sebuah pengelihatan, ketika segala ketakutan telah diangkat, ketika segala keyakinan telah mengkristal, disinilah saya, masih tetap berdiri. Tidak melangkah kecil. Tidak pula merangkak. Tidak pula berlari. Tidak pula menggerakan sendi-sendi. Hanya sebuah rongga dada yang bergerak.
Ya, saya hanya bernafas. Menatap segala peluang persis di depan, hanya dengan sebuah bola mata basah. Pita suara yang merupakan bagian dari jalur udara, bahkan tidak saya gunakan.
'Apakah saya cukup berani mengambil segala konsekuensi?'
Meski saya tidak lagi takut akan apapun.
Meski apa yang terlihat begitu baik ketika tangan dan mata bertemu.
Meski fikiran telah mengujngkan keyakinan akan kebaikan.
'Lalu apa yang saya tunggu?'
Sungguh, saya tidak tahu.

No comments:
Post a Comment