Satu kali, dua kali, dan tiga kali dalam rangkaian bertukar jawaban. Saya akui saya begitu bodoh. Ketertarikan ini melumpuhkan logika saya.
3 kali rangkaian, saya pun hanya mendapatkan kebenaran nama asli, nama panggilan, tanggal lahir, sedikit latar belakang pendidikan, dan ketunggalanmu. Sebuah buku mengutipkan seperti ini di tulisannya: 'rahasia adalah aprodisiak paling ampuh dalam pernikahan'
Yap, begitulah. Bagi saya, saya melihatnya sebagai paradox yang tidak diketahu bagaimana permulaannya. Jika, memang benar adanya rahasia adalah aprodisiak, bahwa cinta adalah hadiah dan kecocokan jiwa yang kaernanya saya melihat tv masa depan saya denganmu di dalamnya, dan bahwa saya akan selalu dilengkapi dan dibimbing olehmu.
Apa yang harus saya mulai terlebih dahulu?
Saya pun tahu kalau saya sedang melakukan kesalahan dengan memperkosa pikiran saya mencari jalan keluar. Karena hubungan saya dengan mu adalah sebuah cinta. cinta hanyalah sebuah hadiah.
'Life's a game made for everyone, love is the prize'
Seperti dalam tulisan Sapardi Djoko Damono (1989)
'Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: denfan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada'
Itu hanya tulisan sederhana yang tidaklah sederhana. Saya begitu sadar betapa banyak harga yang saya hadapi nantinya. Karena diujung pencarian saya, logika saya pun mengatakan bahwa saya membutuhkan tempat kembali. Saya butuh rumah keabadian meskipun saya lah rumah keabadian itu.
Saya melihat rumah itu ketika tnagan saya dan tanganmu bersalaman.
Akankah semua itu hanya dijadikan lelucon bualan kembali dalam hidup saya?
Lelucon yang mematahkan kembali sayap-sayap para pemilik visi?
3 kali rangkaian, saya pun hanya mendapatkan kebenaran nama asli, nama panggilan, tanggal lahir, sedikit latar belakang pendidikan, dan ketunggalanmu. Sebuah buku mengutipkan seperti ini di tulisannya: 'rahasia adalah aprodisiak paling ampuh dalam pernikahan'
Yap, begitulah. Bagi saya, saya melihatnya sebagai paradox yang tidak diketahu bagaimana permulaannya. Jika, memang benar adanya rahasia adalah aprodisiak, bahwa cinta adalah hadiah dan kecocokan jiwa yang kaernanya saya melihat tv masa depan saya denganmu di dalamnya, dan bahwa saya akan selalu dilengkapi dan dibimbing olehmu.
Apa yang harus saya mulai terlebih dahulu?
Saya pun tahu kalau saya sedang melakukan kesalahan dengan memperkosa pikiran saya mencari jalan keluar. Karena hubungan saya dengan mu adalah sebuah cinta. cinta hanyalah sebuah hadiah.
'Life's a game made for everyone, love is the prize'
Seperti dalam tulisan Sapardi Djoko Damono (1989)
'Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: denfan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada'
Itu hanya tulisan sederhana yang tidaklah sederhana. Saya begitu sadar betapa banyak harga yang saya hadapi nantinya. Karena diujung pencarian saya, logika saya pun mengatakan bahwa saya membutuhkan tempat kembali. Saya butuh rumah keabadian meskipun saya lah rumah keabadian itu.
Saya melihat rumah itu ketika tnagan saya dan tanganmu bersalaman.
Akankah semua itu hanya dijadikan lelucon bualan kembali dalam hidup saya?
Lelucon yang mematahkan kembali sayap-sayap para pemilik visi?

No comments:
Post a Comment