A Thousand Question #25

"Sampai kapan terus berlari?"



Berlari yang saya kenal adalah sebuah kegiatan seperti berjalan dengan frekuensi perulangan gerak lebih cepat. Akibat dari perulangan gerak lebih cepat (sedikit berhubungan dengan kecepatan), maka kerja yang dihasilkan lebih besar. Jika, kecepatan yang dilakukan bisa konstan, maka kerja tambahan akan tidak ada.

Itu tidak melelahkan.

Seharusnya, bukan masalah dari sebuah kegiatan larinya. tidak. Itu bukan masalah sama sekali. Lari yang kita kenal dalam kehidupan justru sebenarnya adalah perubahan drastis dari kecepatan untuk memberikan frekuensi perulangan gerak yang lebih cepat.

Itu melelahkan.

Saya mengenal sebuah perlarian kehidupan semenjak saya menginjak masa remaja. Saya berlari dari sebuah pilihan memilih "rumah" antara kedua orang tua saya, dan saya justru berlari menuju sebuah pilihan asrama; berdekaplah saya di dalam sebuah kota yang tidak saya sukai: Bandung. Saya berlari dari sebuah jurusan dan Universitas yang disukai oleh banyak teman SMA saya, dan saya justru berlari menuju sebuah jurusan yang tidak ada tandingannya; terperangkaplah saya di dalam bidang tanpa spesialisasi: Teknik Nuklir.

Saat ini, saya sedang berfikir untuk kembali berlari. Berlari menuruti sisi Philanthropist saya, atau berlari menuruti passion material saya, atau berlari mengejar "rumah" saya. Semua hal itu sebuah pelarian dari sebuah kemuakan akan arus dari dunia Teknik Nuklir saya. Dan tidak dapat saya mendapatkan semuanya; saya harus memilih dan berlari menuju pilihan saya.

saya telah lelah sebelum memulai berlari.

No comments:

Post a Comment