"Apa itu Pluralisme?"
Pertanyaan ini terinspirasi oleh beberapa gelombang baru di socmed mengenai penghapusan kolom agama di KTP. Entah ini ghibah atau memang fakta, tetapi sejujurnya saya tidak setuju dengan hal tersebut.
Di lain pihak, saya menyukai sebuah reaksi komentar dari AHOK. Saya membacanya disini. Saya sudah berfikir berkali-kali dan mencoba mencari tahu segala hal mengenai politik beragama. Tulisan saya setelah ini bukanlah sebuah tulisan yang fasih mengenai bidang ini, jadi tidak dapat dipertanggungjawabkan sebagai referensi.
Islam memang tidak pernah jauh dari kultur sosial negara arab. Sampai saat ini pula, garis batas antara sosial kultur negara timur tengah dengan Islam sebuah garis batas sistem yang semu. Lingkungan saya yang saat ini semakin menunjukan saya mengenai 'Islam adalah Timur tengah'. Begitukah? tetapi di lubuk hati saya terdalam, pertanyaan 'begitukah?' ditentang habis-habisan, rasanya seperti berteriak-teriak 'muntahkan pernyataan itu, Suuuuuk'. hahahahaa. Sulit dijelaskan lah dengan keadaan saya kalau tidak mengalaminya sendiri dialog-dialog seperti itu. Islam bukanlah Timur tengah. Sejarah menunjukan banyak adat jahilliyah sebelum wahyu Tuhan kepada Nabi Muhammad turun; bahkan penyebaran agama pun dilakukan dengan penaklukan. Wajar jika publik sekarang menyebut Islam sebagai Agama berdarah; itu fakta bahwa penyebaran agama Islam yang dibawa oleh para khalifah setelah era Nabi Muhammad dilakukan dengan perang dan cipratan darah, karena dengan apa lagi cara yang pantas dalam BUDAYA Timur tengah saat itu. Perang suku dan penaklukan antar suku sudah menjadi DNAnya masyarakat Timur Tengah, dengan momok Agama, DNA itu tersebarkan kepada seluruh masyarakat yang mempercayainya. Sebelum Papa Dhany meninggal, beliau mewanti-wanti saya mengenai tindakan yang berlabelkan agama tetapi bukanlah ajaran agama.
Apakah saya penganut pemikiran Pluralisme?
Tidak. Tentu tidak. Ajaran agama dan wahyu Tuhan itu harus satu kepemahaman. Satu kepemahaman bukanlah sebuah keseragaman yang serta-merta segalanya harus dijadikan satu kulit yang sama, tetapi tidak juga harus dilakukan perundingan yang akhirnya malah mengubah ajaran dan wahyu itu sendiri. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bahwa wahyu Tuhan adalah kontraaksi dari gelombang pergerakan masyarakat, tidak menutup kemungkinan bahwa Ajaran agama adalah mempertahankan perbedaan tetap ada. Tidak membuka pintu pula untuk proses asimilasi dari ajaran agama.
Ini seperti area yang bertentangan antara hukum fisika klasik dan hukum fisika sub-atom. Agama untuk diri sendiri menjadi sebuah pribadi di dalam diri sendiri; tetapi Agama untuk masyarakat terkadang memiliki hukumnya tersendiri dan tidak bisa disamaratakan perlakuannya.

No comments:
Post a Comment