Teruntuk, Arif.
Tampaknya saya mulai menikmati tiap langit gelap, angin dingin, dan asap rokok di tiap pertemuan kita. Sungguh, kamu tidak harus memaksa diri untuk tersenyum di hadapan saya. Segala perhitungan logikaku telah lumpuh karena keberadaanmu.
Saya tidak tahu apa ini namanya. Dan saya sengaja tidak mencari tahu, meskipun saya telah mengetahuinya, karena ketika saya menyebutkannya, itu sejenis dengan sebuah kutukan bagi saya.
Kàmu bercerita memulai membuka dirimu di masa lalu kepada saya. Saya senang mendengarnya. Saya amat bahagia mengetahui tentangmu.
Tetapi, mulut saya kelu ketika kamu bertanya: 'itu ceritaku, apa ceritamu?'
Saya tidak memiliki cerita apapun. Saya telah menutup lama pintu masa lalu saya dari memori saya. Saya tidak memiliki cerita apapun. Saya bukanlah seorang anak yang jago basket, bermain cheers, manusia olim, wanita mall, wanita geng, cewe-cewe jetset, atau apapun lain sebagainya. Saya hanya seornag manusia biasa. Tidak bisa saya ceritakan apapun mengenai kehidupan saya sendiri. Masa lalu saya hanya akan membuat pendengar bermimpi buruk di kehidupannya.
Cerita yang saya punya hanya sebuah cerita tentang hari ini dan hari esok. Itu bukanlah cerita yang dapat saya sebarkan ke berbagai orang. Saya berdoa, bahwa orang itu adalah engkau. Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Apakah kamu melihat kristal kehidupan itu?

No comments:
Post a Comment