A thousand question #24

"Seberapa munafiknya kah manusia?"

Apakah saya memiliki teman dalam hal kemunafikan?

Saya bertanya-tanya pertanyaan ini selama saya menyusuri malam kota jogja dengan kekasih saya, motor merah Niji.

Saat itu, saya memajamkan mata sejenak di perempatan lampu merah Klebengan. Saya membayangkan diri saya tanpa kerudung dan bersanggul kecil dengan kepangan rapih, beserta sebuah bunga di pusat sanggulan. Tangan menggenggam sebuah bucket bunga. Baju terbalut gaun panjang. Saya menyusuri sebuah karpet perak yang sederhana tetapi terlihat anggun, banyak tebaran kelopak bunga di atas karpet itu. Di samping saya tergandeng Bapak. Mata saya menyapu sekitar dengan senyum kepada para audien yang berdiri di antara meja dan kursinya, dan sebuah panggung. Di bawah tangga panggung, di sana berdiri Masgun, dan sesosok pria berbaju putih, meski agak kontras dengan kulit terbakarnya, dia terlihat menawan. Yap, saya membayangkan sebuah pernikahan saya dengan seseorang.

Tibalah saya di perempatan lampu merah condong catur. Saya memajam mata kembali. Saya membayangkan diri saya tanpa sebuah kerudung, hanya ada ikatan rambut berantakan. Memakai sepatu tracking, celana panjang, kaos tanpa lengan. Menggendong sebuah daypack. Mengalungkan sebuah kamera. Di detik selanjutnya, saya tertawa dan berlari mengejar sosok pria yang sama yang membawa carrier, dan pakaian traveller umumnya. Saya dan dia menatap sunset, detik setelahnya.

Kemudian, di perempatan lampu merah UPN. Saya lagi-lagi membayangkan saya sedang memainkan sebuah kamera yang saya kalungi. Menangkap potrait-potrait wajah para manusia di sebuah jalanan penuh dengan hawa penyingkiran dan tertindas. Jejak rekam sebuah kerusakan lingkungan di sebuah pinggiran negara. Atau mungking negara yang terpinggirkan?

Melewati sedikit perempatan karena lampu merah berganti menjadi hijau, tepatnya di pertigaan terdapat Indomaret dengan penerangan cerah. Kontras sekali dengan penerangan jalanan di pertigaan itu, saya rasa. Saya melihat jejeran kursi kosong, kemudian terisikan dengan sosok saya tanpa kerudung dengan kuncir kuda; bersama dengan lelaki yang sama. Kami mengapit seorang anak kecil perempuan berumur 7 tahun. Lelaki yang sama sedang memangku seorang balita berumur satu tahun. Saya melihat sebuah kebahagiaan dari sebuah keluarga. Keluarga yang telah menemukan 'rumah' mereka.

Di ruko pengalihan jalan di seturan, saya melihat diri saya memakai sebuah jas putih ringan. Berkerudung, berpakaian kasual. Saya memakai kacamata google, memakai sarung tangan, memegang pencapit spesimen. Menghadapi sesosok manusia dengan ras yang berbeda dengan ras saya yang seperti tidak dapat melepaskan label 'agony' dari tiap sel tubuhnya.

Lihatlah, munafik sekali diri saya!

Saya yang tidak ingin menikah, pada akhirnya membayangkan bahwa saya sedang menikahi seseorang.

Saya yang tidak ingin memiliki anak, pada akhirnya membayangkan bahwa saya memiliki 2 orang anak.

Saya yang merasa patah arang menjadi seseorang peneliti bidang medis, membayangkan sewaktu-waltu saya bisa meneliti untuk kemanusiaan.

Saya yang berhenti  dengan sengaja dari dunia adventure, menginginkan sebuah petualangan dan suasana cinta, bebas, bahagia, Netral dan manusiawi.

Saya yang takut mencintai orang, membayangkan sedang membagi 'rumah' dengan seseorang. Rumah yang adalah bumi.

Saya memutuskan bahwa kerudung sebagai identitas saya. Tetapi saya membukanya dengan senyuman kebahagiaan.

Dan saya masih disini, tidak beraksi apapun. Seperti terkurung dalam jalan buntu tanpa cahaya apapun.

Sampai kapan?

Saya mencari seseorang munafik di dunia ini yang bisa dibagikan cerita segala kemunafikan saya.

No comments:

Post a Comment