A thousand question #23

"Mengapa saya harus bercerita selalu kepada pemilik saya (ibu)?"

Pertanyaan ini dimulai semenjak pagj ini saya terbangun dengan rasa terlunjak. Saya telat bangun untuk membangunkan Arif di pagi hari. Kemudia  saya melihat riwayat profil Arif, setidaknya 20 menit sebelum saya, dia telah menyentuh hapenya. Mungkin dia sedang turun di sungai. Kemudian saya melihat sebuah lambang miss call. Ibu. Saya telpon kembali. Sebuah percakapan singkat antara Ibu (I) dan saya (s):

S: assalamualaikum bu.
I: nduk, kamu ga jadi ke bandung?
S: enggak bu
I: apa!?
S: enggak bu
I: kenapa?
S: ada kerjaan
I: kenapa?
S: ada kerjaan
I: kenapa?
S: ada kerjaan
I: kamu sehat kan?
S: iya sehat
I: salam dari mbak Ayu
S: ibu di bandung?
I: enggak ini Ayu di semarang
S: hm
I: yaudah lain kali nelpon lagi

Kemudian telpon pun terputus tanpa salam apapun. Rasanya dingin.

Saya jarang sekali memiliki percakapan singkat dengan ibu. Karena saya selalu bercerita apapu  dengan ibu semenjak saya lepas masa remaja dan menjadi young adult saat masuk kuliah. Tetapi sudah sejak bulan Febuari, saya mulai tidak menyukai sesi bercerita segala hal dengan Ibu saya.

Miris. Saya pun sebal dengan kenyataan yang begitu. Tidak seperti saya yang anak ibu saya. Percayalah, saya tidak menyukainya pula. Saya mulai merahasiakan segala jenis pembicaraan mengenai perasaan: bagaimana rasa rindu dengan Papa Dhany, bagaimana rasa tidak pantas, bagaimana rasa memgerjakan tanggung jawab, bagaimana rasa menjalani kegiatan yang dimulai dengan doa, bagaimana menemukan Arif sebagai hasil doa, bagaimana mimpi membuat saya terus berfikir. Yep, saya merahasiakan segala hal mengenai apa yang berjalan di kehidupan saya akhir-akhir ini.

Saya telah memposisikan Ibu sebagai orang lain dalam setiap cerita kehidupan yang saya miliki. Okay, karena hidup adalah proses sebab akibat, segala hal bisa dilacak.

Saya tidak bercerita tentang Arif.
Karena kedatangan Arif adalah sesuatu yang aneh. Ibu telah mendengar banyak hal tentang kisah pacaranku dengan orang orang bajingan sampai anak ekstrimis. Semuanya berakhir dengan tidak baik. Saran ibu terakhir saat saya sedang dekat dengan Abraham Claflin: 'udahlah realistia aja. Kamu gagal terus kalo deket sama cowo. Ga usah aja lah'. Apalgi jika Ibu dengar cerita bahwa Arif aktivis Mapala di kegiatan yang saya sukai (arung  jeram), saya hanya berkomunikasi dengannya lewat selular, saya tidak permah pergi keluar dengannya, saya mendapatkan visi ketika salaman pertama kami, saya nyaman dengan apapun dna bagaimanapum antara kami berdua. Tidak kebayang, bagaimama histeris dan tajamnya kata-kàta sindiran ibu nanti.

Mimpi. Ibu menyukai sesuatu metafisika. Ah, saya tidak. Saya menyerahkan raga dan akal saya untuk dunia ilmu pengetahuan. Hanya saja, saya dianugrahi sesuatu. Permah saya bercerita sekali tentang Ibu dalam anugrah saya. Malah tanggapan sinis yang didapat. Ah, saya jadi malas. Tampaknya saya tetap malas mennaggapinya. Hahahaha.

Tentang Papa DHany dan skripsi. Hem, lewatkan saja mengenai ini.

Tentang kegiatan mer-c. Ibu ingin agar saya mengakhiri segala kegiatan di luar dunia akademis. Alih-alih begitu, saya malah bergabung dengan mer-c. Dan tadaaaa.... saya teramat nyaman denga setiap kegiatan di mer-c.

Memiliki rahasia seperti candu. Sekali merahasiakan sesuatu, akan ada rahasia selanjutnya. Karena rahasia muncul dari ketidakpercayaan subjek terhadap subjek lawannya. Itu seperti penurunan level kepercayaan, dan penaikan level kepercayaan diri.

Entah mana yang sedang berlangsung di dalam  saya. Tetapi tidak mempercayai orang tua adalah sebuah hal buruk.
Pasti ada sebuah komunikaai yang harus diselesaikan

No comments:

Post a Comment