Hello 23!

Alkisah, saya ingin menulis mengenai 23 ini sehari atau dua hari sebelum tanggal 23 ini ada. Tapi apa daya, saya sedang memperjuangkan sesuatu, yang bahkan saya tidak tahu perjuangan saya berhasil atau tidak. Tampaknya tidak.

Hups, lupakan saja segala keluh kesah. Itu tidak penting, meskipun menurut pak har, pendekatan kejadian itu bisa terbagi dalam dua kubu: layaknya seniman (dengan rasa dan naluri) atau layaknya ilmuwan (dengan logika dan nalar). Saat itu, pertanyaannya adalah dimana posisi engineer (insinyur)? Lebih baik keduanya. Pembelajaran terakhir mengenai etika enjiner di kelas umum, mempunyai prinsip perhitungan, selamat, dan satunya saya lupa. Intinya, tugas enjiner adalah rekayasa. Saya mungkin muak dengan bahasan enjiner adalah blah-blah-blaaaaah. Bagi saya, enjiner adalah garis abu-abu. Garis abu-abu saya bukanlah sebuah konotasi negatif. Hanya saja, saya dihidupkan dalam lingkungan abu-abu. Mungkin jengah, mungkin lebih tepatnya kecewa.

Ketika saya mulai mempertanyakan banyak hal, saya menyadari ketika saya akan menyongsong umur 23, 'no more god's hands' lagi. Itu sebuah istilah dari suatu perkumpulan peneliti, jika percobaan mereka berhasil diusaha pertama kali; karena penelitian itu adalah proses, ada kegagalan, dan itulah yang membuat indah dalam analisa.
Yap, saya merasa perjalanan saya hingga 23 tahun, adalah sebuah keberuntungan, perlindungan, dan tuntunan dari sesuatu yang mudahnya saya katakan adalah Tuhan; tapi saya ingin mengatakannya adalah semesta. Berkah tersebut dikarenakan saya tidak mengenal apapun dalam kehidupan, keluarga saya memposisikan saya dalam zona abu-abu sehingga semesta lah yang mengatur alur kehidupan saya. Lantas saya bertanya: 'untuk apa?' Karena hidup dalam zona abu-abu tersebut, saya bertanya-tanya pula: 'apakah hidup saya hanya sebatas aman dan bebas dalam dunia yang penuh rasa sakit hati dan kegilaan atas realita yang jauh dari harapan?' Dan 'apakah saya harus hidup untuk menjalani apa yang sudah terlanjur; membalaskan rasa marah terus-menerus dari penghinaan?' Dan 'apakah saya tidak boleh dan tidak mempunyai kesempatan berjuang dalam apa yang telah saya bayangkan sebagai masa depan saya?'

Ergh! Sudahlah, ini hasil berdebat yang tidak terselesaikan dengan ibu saya. Kecewa. Tapi ya sudahlah. Ibu telah mengalami dan melihat kehidupan jauh dari saya; dan beliau tidak pernah terbantahkan. Meski kekecewaan saya pun tak terbantahkan pula. Selama tiga bulan, saya berusaha mengejahwantahkan pernyataan beliau mengenai kasih sayang beliau mengenai realita. Bagi saya, itu..... -ekh, saya hanya punya satu kata: menyebalkan- Di saat kita punya sebuah cita-cita yang bahkan juga dianggap 'murtad' dalam lingkungan akademis, jelas satu-satunya semangat adalah orang tua, tapi kalau bahkan keluarga melihat itu sebuah hal mustahil, iykh, kehidupan terasa amat mustàhil dijalani dengan semangat lagi. Segala passion, hasrat, dan keinginan rasanya menjadi tumpukan barang bekas yang antik yang tersimpan di gudang. Sampah dan hampa rasanya. Kemudian, sisanya adalah tuntutan dalam melaksanakan kewajiban, dan kehidupan tanpa gairah sama sekali. Itu yang saya cemaskan sejak saya remaja hingga akal dewasa  23tahun saya berkembang. Jackpotnya, adalah saya mendapatkannya dari sikap dan pola didikan para induk.

Lantas siapa menyalahkan siapa?

Cih, manusia tidak berhak atas kebenaran; buat apa saling menyalahkan. Bagi saya, sudah cukup. Inilah waktu untuk bersikap. Hati adalah muara berkumpulnya darah. Darah membawa segala hal menuju lautan samudra yang luas. Ketika, tetes di samudra dibuat dengan rekayasa gerakan, itulah kehidupan. Kehidupan dengan hilir-masuk-keluar berupa ragam sensasi. Ada sebab dan akibat. Ada reaksi karena ada aksi. Lepas diri dari sistem dengan meningkatkan entropi dengan mefluktuasikan energi bebas gibbs sedemikian rupa.

Welcome to the jungle, hey 23. Sudah waktunya bersikap.

No comments:

Post a Comment