"Mengapa mereka peduli?"
Pertanyaan ini terinsipirasi semenjak saya mendapat berjibun kalimat: 'ayo suk, skripsi. katanya ngejar Agustus'. heem, terimakasih atas dukungannya.
Sejujurnya, saya bukan orang yang dengan mudah dibangkitkan semangatnya ataupun dijatuhkan semangatnya. Memang saya mudah tersentuh, dan saya mudah tersinggung pula. Bukan berarti saya mudah dijatuhkan ataupun dibangkitkan. Ah, tulisan ini akan sangat menyek nantinya.
Secepatnya saya ingin menuntaskan segala hal yang tersisa di tahun-tahun kemarin. Sudah tidak pantas bagi saya menetap dalam ilusi rumah yang sebenarnya bukanlah rumah bagi saya. Saya tidak pernah memiliki rumah; orang tua saya tidak pernah memberikan saya rumah.
Sejujurnya, mereka yang menyemangati saya bukanlah mereka yang peduli. Mungkin ya mereka peduli, tetapi bukan kepedulian sepeduli kata-kata mereka untuk saya. Mereka hanya peduli bahwa masa depan yang tidak mereka ketahui, datang kepada mereka seperti terlihat keadaan saya sekarang. Karena itu mereka peduli. Mereka peduli untuk diri mereka sendiri atas sebuah kenyataan di detik setelahnya yang masih menjadi sebuah misteri.
Manusiawi, saya rasa.
Mereka itu sebenarnya tidak peduli, melainkan hanya ingin tahu.
Secepatnya pula saya ingin menuntaskan tulisan ini. Kembali mengalir pada logika saya. Tulisan terakhir ini terlalu terkesan menyek. Saya sudahi saja.
Pertanyaan ini terinsipirasi semenjak saya mendapat berjibun kalimat: 'ayo suk, skripsi. katanya ngejar Agustus'. heem, terimakasih atas dukungannya.
Sejujurnya, saya bukan orang yang dengan mudah dibangkitkan semangatnya ataupun dijatuhkan semangatnya. Memang saya mudah tersentuh, dan saya mudah tersinggung pula. Bukan berarti saya mudah dijatuhkan ataupun dibangkitkan. Ah, tulisan ini akan sangat menyek nantinya.
Secepatnya saya ingin menuntaskan segala hal yang tersisa di tahun-tahun kemarin. Sudah tidak pantas bagi saya menetap dalam ilusi rumah yang sebenarnya bukanlah rumah bagi saya. Saya tidak pernah memiliki rumah; orang tua saya tidak pernah memberikan saya rumah.
Sejujurnya, mereka yang menyemangati saya bukanlah mereka yang peduli. Mungkin ya mereka peduli, tetapi bukan kepedulian sepeduli kata-kata mereka untuk saya. Mereka hanya peduli bahwa masa depan yang tidak mereka ketahui, datang kepada mereka seperti terlihat keadaan saya sekarang. Karena itu mereka peduli. Mereka peduli untuk diri mereka sendiri atas sebuah kenyataan di detik setelahnya yang masih menjadi sebuah misteri.
Manusiawi, saya rasa.
Mereka itu sebenarnya tidak peduli, melainkan hanya ingin tahu.
Secepatnya pula saya ingin menuntaskan tulisan ini. Kembali mengalir pada logika saya. Tulisan terakhir ini terlalu terkesan menyek. Saya sudahi saja.

No comments:
Post a Comment