"Dimana posisi bakat dan para visionis berada?"
Ini adalah tulisan kedua saya yang bertanya dengan kata pertanyaan dimana. Sebelumnya, saya pernah bertanya mengenai keberadaan para penyendiri. Kali ini saya menanyakan para visionis.
Seperti yang sering dieluelukan masyarakat mengenai Bung Karno. Beliau adalah pemimpin visionis. Atau Albert Einstein, seorang ilmuwan yang visionis. Atau Galileo G, seorang pemerhati gereja yang visionis. Atau Ali bin Abi Thalib, seorang cendikiawan agama menantu nabi yang visionis. Atau Rasulullah, seorang manusia luar biasa visionis. Atau tokoh bidnag lainnya, yang visionis. Lantas saya bertanya, jadi visionis itu apa sih? Dari pengamatan yang saya lakukan, dan ga begitu shahih, tokoh yang visionis itu adalah tokoh yang dikagumi di masa mendatang, tapi disampahkan di masanya sendiri.
Kalau begitu, apa gunanya menjadi seornag visionis? Ga ada gunanya. Hanya cemaki-makian yang diterima!
Saya melihat, bahwa visionis itu bukanlah menjadi suatu profesi yang dapat dibanggakan. Bukan sebuah karakter yang wajar diumbar-umbarkan di dunia khalayak ramai. Anugrah? Hm, bukan juga. Karena itu sesungguhnya adalah beban sebenarnya dalam kehidupan. Ketika memiliki sebuah kemampuan di luar kemampuan mayoritas umumnya, bagi saya itu adalah masalah. Coba saja, siapa saja yang sukses keluar dari permukaan khalayak ramai dengan kemampuan visionis terpampang di jidatnya dengan nama bersih, raga bersih, julukan yang sehat, atau bahkan hidup dengan keamanan dan kenyamanan yang alami layaknya khalayak ramai?
Rasulullah? Subhanallah, coba lah sana tengok bagaimana penghinaan khalayak ramai (yg tertulis sebagai umat kafir) menghardik beliau.
Ali R.a.? Ketika beliau muncul ke permukaan sebagai khalifah, bagi saya itu adalah puncak rasa takut wajar menghinggap. Jika beliau manusia biasa seperti saya, tentunya, hanya saja sejjarah dan pengikutnya menyebutkan bahwa beliau bukan manusia biasa.
Einstein? Hanya karena kita mendapat cerita bahwa dia bahagia berfikir dalam ke autisannya saja, kita menganggap dia hidup nyamnyam layaknya khalayak umum.
Soekarno? Haha! Sinting jika ada yang bilang dia mendapatkan kehidupan nyamnyam! Berapa detik yang dia habiskan dalam seluruh fase pengasingan?
Atau bahkan Joan de arc, peramal Laurent, atau nabi palsu eden? Mereka visionis loh... tapi apa yang terjadi oleh mereka?
Sungguh, menjadi visionis bukan hal yang harus diumbar dengan dada membungsung dan dagu terangkat angkuh. Jika seornag insan dengan kemampuan visionis hidup di permukaan, saran saya: 'bersembunyi sejauh mungkin dari batas-batas sistem yang mudah bergejolak, jangan pernah keluar dari permukaan khalayak ramai jika insanmu belum siap menderita dalam kehidupan duniawi, jika belum siap kehilangan atas segala hal yang melekat pada diri, jika belum siap jantung dan otakmu terpreteli dari tubuhmu. Bersembunyilah! Datanglah ketika hanya talenta visionismu melekat pada tiap partikel darahmu, dan ketika kamu bukan seorang visionis saja. Ketika kamu siap dan menjadi seorang Pemimpin yang Visionis, atau Revolusioner yang Visionis, atau Ilmuwan yang Visionis, atau profesi lainnya yang visionis. Omong kosong dengan visionismu!'
Màka, adakah di sekelilingmu yang visionis? Yang masih bersembunyi menempa kesiapan? Maka disanalah, duniamu akan siap ditinggikan entropinya kepada sesuatu yang di luar dugaaan. Bersiaplah dengan masa depan yang berbeda.

No comments:
Post a Comment