Love is the prize #7

Hm... lagi-lagi saya menulis ketika diri berselimut romantika.

Ini adalah tanggal 4 Mei. Itu artinya, sudah 3 bulan sejak Papa Dhany meninggal. Rindu? Tentunya. Tidak ada kalimat yang bisa mengungkapkan rasa rindu saya tersebut, meskipun saya mungkin tidak berhak; tapi apa rasa itu bisa diatur tidak muncul? itu sama saja menakjubkannya jika bisa mengatur jantung berhenti bekerja sejenak dengan pikiran. 

Hari ini, dunia saya menyaksikan kematian. Mungkin saya mengenalnya, tetapi mungkin juga tidak. tetapi yang jelas, sesuatu telah datang dan memberitahukan kabar sekitar seminggu sebelumnya. Itulah keadaan yang harus saya hadapi sekarang, dan saya harus belajar cepat-cepat memahami artinya. 

Siang tadi, saya berkata kepada diri saya sendiri bahwa saya masih belum bisa bersahabat dengan kematian. Setahun lalu, saya bertahan hidup untuk membenamkan segala harapan, dan usaha datangnya rasa cinta ke dalam kehidupan saya sendiri. Ya, saya menemukan dan banyak belajar mengenai kehidupan. Sampai akhirnya saya melihat betapa setia dan romantisnya Papa Dhany ditarikan nafasnya. Sebuah pertanyaan yang aku hindari selalu dalam kepala: 'lantas apa kehidupanmu?'. Itu adalah pertanyaan yang aku tanyakan di tiap saya membuka mata. 

Dulu saya sempat berfikir; jika saya menginginkan merawat anak, maka saya bisa membuka panti asuhan atau mengadopsi seorang anak; jika saya sedang menginginkan kebutuhan jasmani sebagai betina, saya rasa saya bisa mengontrolnya, itu hanya sebuah keinginan sesaat dan bisa teratasi dengan ketundukan saya pada garis vertikal. Pernikahan cuma sesuatu isapan jempol para balita semata bagi saya. Saya jijik dengan setiap ucapan 'Pernikahan itu melengkapi kehidupan', 'pernikahan adalah ibadah', 'pernikahan melengkapi ibadah', dan lain-lainnya. Pasalnya, ada seseorang yang mengucapkan segala kebaikan dan kesucian pernikahan kepada saya, dan saya tidak merasa baik dan suci karena dia. Hanya memikirkannya saja, saya teramat jijik dan benci dengan wujudnya dan wujud apapun yang ia bawa kepada saya. Mungkin orang itu mempunyai doa, tetapi aku pun mempunyai doa pula. bahkan jiwa dan akal. 

Ketika saya mulai nyaman dengan segala kondisi pola kehidupan yang baru. Setelah dua tahun lamanya. Sekitar Febuari kemarin, di saat masa berkabung, saya ingat saya berdoa kepada Tuhan: 'Tuhan, engkau telah menunjukan sebuah kisah cinta yang abadi, dan disinilah hamba mulai meragu. Disini pula lah hamba belajar mengenai kesetiaan. Disini pula hamba mulai membuka pintu hati. Jika, engkau mengizinkan dan menilai hamba siap dengan rahasiamu akan cinta, kesetiaan, ketulusan, dan keseimbangan, datangkanlah seorang sosok yang bisa mengajarkan hamba segala hal itu, jadikanlah sosok tersebut sebagai kekasih hamba selamanya, jadikanlah kami berkembang, saling mendukung, dan menghikmahi bersama setiap kebenaranmu dalam setiap jalan dan peran kami, mudahilah jalan kami, pantaskalah kami masing-masing, dan berilah hamba isyarat untuk memercayainya. Jika, engkau melihat hamba tidak siap dan tidak pantas dengan rahasia cinta, kesetiaan, ketulusan, dan keseimbangan Mu, maka lindungilah hamba dari setiap hubungan dengan lawan jenis, jangan biarkan siapapun masuk dalam kehidupan pribadi hamba'

Dan disanalah dia. Dia datang dengan cara yang aneh. Di dalam kegelapan, dan diselimuti rasa panik juga lega, suaranya menyadarkan ku tetap berpijak dan berjalan di atas tanah, aku pun menanggapi suaranya dengan sebuah ketenangan yang sebenarnya tidak wajar. Itu bukanlah pertama kali saya bertemu dengan nya. Berkali-kali. Namanya pun sudah sering terdengar dari para adik-adik tim air saya; tetapi saya tidak pernah dapat mengingat namanya itu. Dia pun tidak pernah menegur saya sebelumnya. Raut wajahnya selalu terlihat jutek dan dingin kepada siapapun orang asing. Perkenalan yang singkat, sampai akhirnya tangan kami bersalaman. Disanalah, saya sadar, anugrah saya sedang bekerja. Sebuah masa depan. Entah itu ego atau nafsu atau memang adanya anugrah seperti itu. Tapi saya memang melihatnya. 

Meskipun disinilah saya mulai menanyakaan segala keanehan antara saya dan dia. Saya yang dengan setengah sisi yang ingin menjajaki perkenalan setelah menikah, belajar segala hal setelah menikah, dan mengesampingkan keturunan, yang dengan setengah sisi lain skeptis sehingga menanyakan kembali pernikahan. Dia (dari sebuah kalimat yang sempat dia paparkan) akan bekerja, menikah, membahagiakan orang tua. 

lantas untuk apalagi?

Tidak. Saya tidak tahu! sungguh belum mendapatkan titik terang dari segala pecahan teka-teki!

Di malam sepulang saya lelayu salah satu adik kampus saya, saya bertanya 'lantas apa suk kamu berhidup sampai sekarang?' Pertanyaan miris memang. Di sela pertanyaan itulah, kemudian saya mulai memahami posisi kekasih abadi dalam kehidupan saya kelak. Seseorang yang akan memeluk saya dengan sayang, seseorang yang menyadarkan saya dalam urusan ibadah, seseorang yang akan berbagi segala kejujuran, seseorang yang berjuang bersama, seseorang yang menjadi tempat kembalinya saya, seseorang yang akan berbagi cerita dan tempat bercerita saya tiap pagi, sore, malam, dan akhir pekan, seseorang yang selalu menghujani saya dengan kasih sayang, seseorang yang siap bersama dalam kebaikan dan peran hidup, seseorang yang akan saya doakan sebuah kebaikan selalu, seseorang yang akan saya usap tiap kali Ia lelah, seseorang yang akan saya cumbui dengan sayang, seseorang yang akan membangun kehidupan abadi untuk jiwa kami yang agung, seseorang yang akan meninggal terlebih dahulu dibanding saya, seseorang yang akan saya rawat makamnya selama sisa kehidupan saya, seseorang yang akan membuat saya berdoa di tiap seperempat hari di satu hari kehidupan saya, seseorang yang akan menemui saya dalam keabadian, dan seseorang yang akan mengajari saya kehidupan tulus, setia, dalam keseimbangan. Seseorang yang dapat menerima saya.

Saya masih tidak tahu apa-apa.

No comments:

Post a Comment