Love is the prize #9

Pagi ini akal saya terusik dengan sesuatu hal yang mengganggu. Sampai saat ini hal tersebut pun mengganggu saya.

Setiap ornag memiliki traumanya masing-masing. Saya agak kurnag setuju dengan penyetaraan makna antara trauma dan ketakutan. Ketakutan itu rasa gelap yang timbul sesaat ketika kejadian random dihadapkan kepada kita , tetapi bagi saya trauma itu bagai jelaga kenangan di otak kecil kita yang meningkatkan amigdala jika kenangan atau rasadari kenangan muncul ke permukaan kehidupan.

Tidak, saya tidak takut dengan apapun kecuali Tuhan dan semesta Tuhan. Ya, saya memiliki trauma. Banyak. Sangat banyak. Trauma yang tidak akan pernah disangka-sangka oleh siapapun, termasuk di dalamnya adalah ornag tua saya sendiri. Dan percaya atau tidak, saya hidup dengan tiap trauma itu. Percaya atau tidak pula, saya tidak pernah bisa keluar dari macam trauma itu. Sampah.

Lantas, kenapa saya membicarakan trauma dan ketakutan dalam judul love is the prize. Karena saya sejujurnya, trauma dengan ego saya.

Ini ada kaitannya dengan kamu. Iya kamu. Hahaha, saya telah tercemar dengan comicon Dodit yang kamu idolakan.
Karena kamu datang mengusik jiwa pikiran dengan reaksi kimia diantara kita berdua. Karena kamu datang memberikan reaksi kimia itu setelah ada jelaga besar di otak kecil saya tentang sensasi mengagumi seseorang. Karena kamu datang membuat kusadar bahwa aku masih memiliki perasaan. Karena kamu datang dengan perasaan yang mudah sekali membangunkan naga yang sudah  saya tidurkan yang bernama ego.

Karena sesungguhnya saya adalah manusia egois. Saya hanya terpacu dalam pengembangan dan perbaikan diri saya sendiri.

Karena kamu adalah kamu! Kamu begitu baik, bertanggung jawab, dan membumi dengan gagah dan hebat. Itu adalah bawaanmu!

Bawaanmu telah membuat saya kagum setelah saya akhirnya banyak mengetahui tentangmu dari berbagai desas-desus random, dan dari tiap ceritamu. Ya, ketika masih dalam tahap tidak mengenalmu, saya mendapat percikan kimiamu. Saya percaya bahwa kamu adalah hadiah dari doa saya. Ingin sekali pada tahap tersebut, membiarkan saya terlanjur jatuh dalam dunia penuh ikatan, pernikahan, agar saya tidak lagi menimbang-nimbang segala aspek melainkan saya belajar bersama kamu dalam kehidupan. Pada kenyataannya? Itu hanya rancangan besar dalam pikiran saya, sampai akhirnya mengenal sedikit tentangmu, menumbuhkan rasa kagum, memicu amigdala, kemudian akan timbul ego, dan kemudian disanalah kehidupan saya akan berhenti.

Sebuah pilihan kemudian datang:
'Sudahlah, buang saja segala jenis rasa'
Saya rasa saya mampu. Tapi bagaimana dengan jenis rasa kepekaan kepada semesta yang saya sayangi, bagaimana dengan jenis rasa tanggung jawab yang sedang saya pelajari, bagaimana dengan jenis rasa disiplin yang sedang saya perjuangkan, bagaimana dengan itu semua? Lagipula, rasa membawa segala masa depan. Pak Haryono berkata:
'Masà depan adalah kejadian yang dapat kita reka saat ini, maka kita berjuang saat ini mengarah ke masa depan'
Ketika saya menutup segala jenis rasa, saya hanya manusia tanpa masa depan. Lantas apakah ibadah saya hanya sebatas robot yang Papa Dhany wanti wanti kepada saya? Tapi haruskah saya beribadah dalam kehinaan dan jijik akan diri sendiri?

Dan kamu. Kamu tetaplah kamu. Kamu tetaplah kamu yang belum saya tahu apakah kamu ikut merasakan perasaan yang sama seperti saya, apakah kamu dapat menerima saya sebagaimana saya, apakah kamu dapat membimbing saya, apakah kita dapat berkembang bersama?

Dah Tuhan tetaplah Tuhan. Sang maha segalanya. Mari bersujud dalam dialog bersamanya.

No comments:

Post a Comment