"Apa batasan dalam menghina?"
Sebagai permulaan, saya bercerita mengapa saya mempertanyakan ini di pagi hari jum'at. Ceritanya sederhana, saya bertanya mengapa para ulama islam masa perjuangan mengkudeta Soekarno? Pembelajaran semasa SMA, saya hanya dicekoki bahwa langkah yang dibuat Soekarno adalah menjaga kerukunan. Terlahirlah Pancasila dengan founding father adalah Soekarno, yang adalah Soekarno, yang adalah tidak 100% dalam ideologi apapun.
Bukan gaya saya membaca buku sosiologi, politik, filsafat, meskipun berulangkali saya sadar bahwa saya memerlukan asupan dalam buku itu jika saya ingin membuka gerbang perkembangan pengetahuan masa lalu. Saya memulainya dengan membaca buku mengenai masyumi di gramedia jalan sudirman jogjakarta. Membacanya seperti mengetahui latar belakang mengapa anak turunan ideologi Soekarno ditekan habis-habisan oleh beberapa golongan kaum beragama.
Saya bukan manusia yang hidup dalam dunia fanatik islam. Kalau bisa dibilang saya dihidupkan oleh ibu saya sebagai manusia pragmatis, yang melihat musabab dna proses terlebih dahulu. Padahal, latar belakang pendidikan ibu saya adalah konsepsi berfikir jebolan sekolah kristen ternama 12 tahun. Tapi, ibu mungkin muak dengan pencarian mendasar, sisi pragmatis pun keluar dan Ia turunkan kepada saya. Turunan pandangan yang ia berikan kepada saya lainnya adalah mengenai keragaman dan toleransi umat beragama. Toleransi yang sifatnya apatis, yaitu: 'sudah diam saja dalam pembicaraan mengenai syariat agama lain'. Begitulah jika saya terkadang menunduk atau diam saja jika dalam audiovisual dunia saya menyuarakan agama atau kepercayaan.
Dasarnya, memang hanya sebuah ilusi sebuah kalimat: 'kerukunan antar-agama'. Nyatanya, agama dimulai dengan doktrinase, warisan orang tua. Agama pula berbeda kulitnya, sedangkan agama itu ya memang kulitnya biji. Hahaha. Ajaran adalah bijinya. Jadi yang mungkin terjadi memanglah: 'kerukunan antar-orang-beragama'. Ya itu, lebih ke individual. Memang sulit menempatkan posisi agama itu kehidupan nyata, apakah untuk kepribadian sendiri, ataukah untuk kepentingan global?
Batas-batas ketidakjelasan inilah yang membuat darah sebenarnya mudah mendidih. Okelah, sejarah dari para pandangan pengikut masyumi menceritakan akan penghinaan umat kristen dari yang kecil-kecil hingga skala besar hingga akhirnya pengikut masyumi merasa tergencetkan dengan kejayaan kaum nasakom. Slogan yang bisa saya terima adalah 'siapa lagi yang bisa membela islam jikalau bukan kita umat islam sendiri'. Ya saya setuju. Tapi islam itu apa?
Ih, saya menulis kalimat terakhir dengan penyesalan loh. Saya menyesal, betapa tidak mengenalnya saya dengan islam. Padahal saya adalah islam. Saya mempercayai Tuhan yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai Allah dengan berbagai sifat agungnya, saya percaya keberadaan makhluk ciptaan lain di dunia, saya percaya Al-Quran adalah wahyu Allah untuk Muhammad S.A.W, saya percaya nubuat Muhammad S.A.W, saya percaya perjalanan ruh dan jasad dari konsepsi dualisme manusia dalam perwujudan teori eksistensi Marcel G. Saya hanya tidak percaya eskatologi dalam ranah surga dan neraka. Bagi beberapa orang islam, itu cukup untuk membuat kita islam. Awalnya saya pun juga berifkir seperti itu, nyatanya, itu tidak cukup. Apalagi ketika saya mempercayai bahwa ajaran islam itu juga mengatur segala aspek dalam kehidupan. Menjadi-jadilah kegelisahan saya karena saya tidak mengenal Islam yang saya jiwai.
Nah, saya pun juga melihat kegelisahan tidak hanya di diri saya, tetapi di diri orang-orang lain yang juga menjiwai Islam. Tidak ada sebuah garis batas yang jelas mengenai Islam itu sendiri. Sampai-sampai saya sempat berfikir jangan-jangan Islam itu sebuah yang tanpa batas. Yang tanpa batas adalah Islam. Jika memang begitu adanya, maka seluruh wujud bumi ini adalah tempat ibadah umat Islam dong, paralelis waktu adalah wujud kebaikan umat Islam, dan karena tanpa batas pula, kebaikan atau keburukan itu segalanya terkemas dalam Islam dong. Maka, apakah itu perwujudan kebenaran yang ditampakan dalam Islam? Segalanya jadi serba chaos, dan silogis. Jika benar seperti itu, seharusnya tidak ada berita 'rumah ibadah dihancurkan oleh masyarakat fanatik' harusnya 'rumah di dalam bumi ibadah telah dirusak oleh umat Islam yang bukan Islam' hahaha. Iya dong, karena seluruh bumi adalah tempat Ibadah, maka satu isi di dalam bumi hanya bangunan tak bermakna; karena seluruh umat di dunia adalah umat Islam (jika Islam tanpa batas), maka orang yang tidak mempercayai seluruh umat di dunia adalah umat islam, bisa disebut sebagai 'umat Islam yang bukan Islam'.
Kan, itu tuh rancu banget. Rusaklah semua logika yang ada.
Termasuk di dalamnya logika saya berarti. hahahaha.
Nah, bayangkan seandainya jika tahu apa batasan dalam Islam. Seharusnya umat Islam jadi bisa memilih harus naik pitam dengan apa. Sebatas pengetahuan saya saja ya kalimat-kalimat setelah ini. Wajar kalau kami umat Islam marah tersinggung ketika Al-Qur'an, kitab suci kami, satu-satunya pedoman wahyu Tuhan kami akan kebenaran, dinajiskan oleh kalian; karena kami dengan TEGAS telah berSUMPAH dalam darah kami untuk menjaga kesucian Al-Qur'an, bahkan kami menjaga kemurnian isi Al-Qur'an dari tangan-tangan perundingan manapun atas dasar 'kebaikan masa yang sekarang'. Wajar kalau kami umat Islam bersedia diinjak atau bahkan dipanah ribuan anak panah saat kami sedang bersedekap menghadap Tuhan kami, demi menjaga darah kami berisikan ucapan Shalawat kepada nabi-nabi kami dan 'Laa illahaillallahu', dan saudara kami lainnya berteriak marah, karena sesungguhnya kami juga sedang MENDOAKAN beberapa Nabi dan Tuhan kalian, dan bahkan sebenarnya kami sedang mendoakan agar bumi ini tidak melaknat kalian yang menginjak dan memanah kami dengan ribuan anak panah; mengapa kalian melarang kami umat Islam mendoakan kalian semua yang ada di bumi Ibadah kami?
Dan tetap, inti dari pertanyaan saya sebenarnya masih mempertanyakan:
Apakah batasannya?
sehingga menghina bisa benar-benar dianggap menghina yang wajar ditindak-lanjuti, bukan menghina sebagai provokasi atas kebodohan yang tidak tahu apa dasar dan batasan.

No comments:
Post a Comment